Manggala

Nguyen Rakai Pikatan
Chapter #19

Yang Akhirnya Terlihat

Firla bangun sebelum alarm berbunyi.

Bukan karena mimpi buruk, bukan karena suara dari luar. Matanya terbuka sendiri, pukul lima lewat sedikit, dengan cara yang sudah beberapa minggu ini jadi kebiasaan baru — tidur yang tidak pernah benar-benar dalam, bangun yang tidak pernah benar-benar segar.

Ia menatap langit-langit.

Noda kecoklatan di sudut kanan. Masih ada.

HP-nya di meja, menghadap ke atas, layarnya mati. Ia tidak langsung meraihnya. Ada beberapa detik setiap pagi belakangan ini di mana ia sengaja tidak melihat HP dulu — bukan karena tidak ingin tahu, tapi karena begitu ia melihatnya, hari itu resmi dimulai, dan hari-hari belakangan ini punya cara memulai diri sendiri yang tidak pernah ia suka.

Ia bangun. Ke kamar mandi. Air yang sama, keran yang harus ditunggu sampai jernih, ubin yang retak di satu sisi.

Ketika ia kembali ke kamar, HP-nya bergetar.

Bukan satu getar. Beberapa, berturut-turut, dengan jeda yang terlalu pendek untuk masing-masing jadi notifikasi tunggal.

Firla mengambilnya.

Layar penuh. Bukan dari satu aplikasi — WhatsApp, dua platform berita yang ia berlangganan, satu grup alumni kampus yang biasanya sepi berbulan-bulan, tiba-tiba semua bergerak dalam rentang beberapa menit yang sama.

Ia membuka yang paling atas.

Bagas, dikirim pukul 05:52: Fir udah lihat belum. Buka HP sekarang.

Di bawahnya, satu link. Tidak ada penjelasan lain.

Firla menatap link itu sebentar sebelum membukanya. Kebiasaan lama — jangan langsung klik apa-apa dari siapa-siapa. Tapi ini dari Bagas, dan Bagas tidak pernah kirim link tanpa alasan jam segini.

Ia tekan.

Videonya sudah dimuat sebagian ketika layarnya penuh.

Rekaman CCTV. Firla tahu itu dari kualitasnya sebelum sempat membaca apapun — sudut pengambilan yang terlalu tinggi, warnanya agak pucat, timestamp kecil di pojok kanan bawah yang bergerak detik demi detik dengan cara yang tidak pernah dipakai kamera biasa.

Di bawah video, ada teks yang disematkan. Bukan bagian dari rekaman aslinya.

Dimas Pratama. 14 November. Di mana prosesnya?

Firla tidak bergerak.

Ia sudah tahu nama itu sebelum videonya sempat diputar sampai detik kelima. Sudah tahu jauh sebelum pagi ini — sudah tahu sejak Rini membacanya keras-keras dari dapur SUDUT sambil menunggu air mendidih, sudah tahu sejak ibunya Dimas datang ke kantor menanyakan apakah mereka mau meliput, sudah tahu sejak nama itu ia ketik sendiri di baris baru spreadsheet-nya berbulan-bulan lalu dengan catatan kecil di kolom terakhir: regulasi tambang, NaramBeya, Oktober.

Nama itu sudah ada di kepalanya lebih lama dari yang bisa diingat kapan pastinya.

Tapi sekarang nama itu ada di layar HP-nya dengan cara yang berbeda. Bukan lagi satu baris di antara tiga belas baris lain yang hanya ia dan dua orang lain tahu. Sekarang ada di sini, di HP-nya sendiri, terkirim dari Bagas yang jelas tidak sedang membicarakan penelitiannya — terkirim karena ini sudah jadi sesuatu yang orang lain kirim ke orang lain.

Ia menonton sampai detik keempat puluh.

Lalu berhenti.

Bukan karena tidak kuat. Karena sudah cukup. Ia sudah tahu apa yang akan ada di video ini bahkan sebelum menontonnya — bukan detailnya, tapi bentuknya. Ia sudah membayangkan bentuk ini berbulan-bulan, dari serpihan-serpihan yang tidak pernah cukup untuk jadi apa-apa.

Sekarang bentuknya sudah ada. Delapan menit lebih, katanya di keterangan platform. Ratusan ribu tayangan, angkanya sudah naik sejak Bagas mengirim link ini beberapa menit lalu.

Firla menatap layar yang sudah gelap kembali karena ia berhenti menontonnya.

Wajahnya sendiri terpantul samar di sana.

Ia mengetik balasan ke Bagas dengan tangan yang tidak sepenuhnya stabil.

Udah. Berangkat sekarang.

Tidak menunggu balasan.

Ia berpakaian cepat, tidak terlalu memilih apa yang dipakai — hoodie yang sama seperti biasa, celana yang tergantung di kursi dari kemarin. Mengambil tas, laptop, charger.

Di ruang tengah, ibunya belum bangun. Pintu kamarnya masih tertutup. Tidak ada cahaya di bawahnya.

Firla ragu sebentar di depan pintu itu.

Lalu tidak mengetuk.

Motor menyala dalam satu kick, kebetulan pagi itu tidak rewel seperti biasanya.

Jalan menuju SUDUT masih sepi — belum jam sibuk, belum ada yang buka penuh selain beberapa warung nasi uduk yang memang selalu jadi yang pertama. Firla berkendara dengan cara yang lebih cepat dari biasanya, bukan ngebut, tapi tidak ada jeda di setiap lampu merah untuk memikirkan hal lain.

Di kepalanya, hanya satu kalimat yang terus berputar, bukan dari video, tapi dari ingatan yang jauh lebih lama.

Kalau itu terjadi, kita tulis. Dengan fakta yang bisa dibuktikan.

Bagas yang mengatakannya, berbulan-bulan lalu, waktu ibunya Dimas baru saja pulang dari SUDUT dengan tangan kosong dan mata yang sudah kehabisan air mata untuk hari itu.

Dan sampai itu terjadi, kita diam.

Kita menunggu. Itu bukan hal yang sama.

Firla tidak pernah sepenuhnya percaya kalimat itu waktu itu. Ia mengangguk karena Bagas benar secara prosedural, karena cara kerja itu benar, tapi ada bagian dari dirinya yang selalu bertanya — sampai kapan menunggu berhenti jadi menunggu dan mulai jadi terlambat.

Sekarang ia tahu jawabannya.

Terlambat adalah ketika orang lain yang menemukan jawabannya duluan.

Di SUDUT, pintu bawah sudah tidak dikunci. Firla naik tangga dua anak tangga sekaligus, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan.

Bagas dan Rini sudah di dalam.

Rini duduk di mejanya dengan laptop terbuka dan HP di tangan kanan, matanya bergantian antara dua layar dengan cara yang cepat sampai terlihat seperti tidak fokus ke keduanya. Bagas berdiri, bukan duduk — berdiri di depan TV kecil di sudut ruangan yang jarang dinyalakan pagi-pagi, remote di tangan, mengganti channel satu ke channel lain.

Tidak ada yang menyapa Firla ketika ia masuk.

Ia meletakkan tasnya di meja kosong. Duduk. Membuka laptop.

"Berapa lama sudah beredar?" tanya Firla.

"Dari yang bisa kita lacak," kata Rini, tanpa menoleh dari layarnya, "mulai sekitar jam tiga, jam empat pagi. Tapi baru kelihatan jam lima ke atas."

"Dari mana asalnya?"

"Belum jelas. Nggak ada satu sumber. Muncul di banyak akun hampir bersamaan." Rini akhirnya menoleh. "Kayak yang lo bilang soal artikel yang dihapus waktu itu. Cuma kebalikannya."

Firla menatapnya.

"Kebalikannya gimana?"

"Waktu itu sesuatu menghilang serentak dari banyak tempat. Sekarang sesuatu muncul serentak di banyak tempat." Rini kembali ke layarnya. "Dua-duanya nggak natural."

Di TV, Bagas berhenti di satu channel — bukan channel berita, tapi channel yang biasanya isinya program pagi dengan presenter yang selalu tersenyum.

Presenter perempuan yang sama seperti yang biasa muncul — rambut tersisir sempurna, blazer warna cerah — sedang membaca sesuatu dari layar prompter dengan ekspresi yang, untuk pertama kalinya sejak Firla ingat pernah melihat program ini, tidak sepenuhnya stabil.

"— dan pihak berwenang menyatakan bahwa konten yang beredar saat ini masih dalam proses verifikasi. Masyarakat dihimbau untuk tidak buru-buru menyimpulkan dan tidak menyebarkan konten yang belum jelas kebenarannya—"

Presenter itu berhenti sebentar. Matanya turun sekilas ke arah sesuatu di luar kamera — mungkin produser, mungkin monitor lain.

"— kita akan kembali membahas ini setelah jeda. Sementara itu, mari kita lihat dulu kabar terbaru dari dunia hiburan—"

Musik transisi masuk. Iklan.

Bagas mematikan volumenya, tidak mematikan TV-nya.

"Mereka nggak tahu harus ngomong apa," katanya. Bukan pada siapa-siapa secara khusus. "Kelihatan banget."

Firla membuka platform video lagi di laptopnya sendiri.

Angka penayangan sudah berubah dari yang ia lihat di HP tadi. Naik. Terus naik, bahkan saat ia menatapnya.

Di kolom komentar, ribuan sudah masuk. Ia scroll sebentar — bukan untuk membaca semua, hanya untuk merasakan bentuknya.

gila ini beneran?

kok bisa nggak ada yang tau selama ini

gue kenal keluarganya. mereka udah nyari dari bulan lalu tapi nggak ada yang bantu

ini hoax kali, video jaman sekarang gampang di-edit

kalau ini beneran, siapa yang tanggung jawab

Di antara komentar-komentar itu, beberapa yang berbeda nadanya. Firla berhenti di satu:

jangan langsung percaya video yang belum jelas sumbernya. bisa aja settingan pihak yang mau bikin kekacauan.

Ia membaca komentar itu lagi.

Bukan isinya yang membuatnya berhenti. Cara menulisnya — terlalu rapi untuk komentar yang ditulis cepat pagi-pagi, terlalu langsung ke poin tanpa emosi yang biasanya ikut komentar semacam ini.

Ia scroll lebih jauh.

Ada lagi. Kalimat berbeda, akun berbeda, tapi struktur yang sama — menekankan ketidakpastian sumber, menyebut kata "settingan" atau "framing," selalu diakhiri dengan ajakan untuk tidak "gegabah."

Firla tidak langsung yakin ini apa. Bisa saja orang-orang yang memang skeptis, yang memang berpikir begitu tanpa koordinasi apapun.

Tapi ada sesuatu dari polanya yang terasa terlalu identik untuk kebetulan biasa.

Ia membuka dokumen catatan baru. Menyalin tiga komentar itu ke sana, dengan nama akun masing-masing.

Belum tahu ini apa.

Tapi ia mencatatnya.

"Mas," kata Firla, tanpa mengangkat kepala dari layarnya, "gue mulai lihat komentar-komentar yang polanya sama."

Bagas mendekat, melihat ke layar Firla.

"Yang mana?"

Firla menunjuk tiga komentar yang tadi ia salin.

Bagas membacanya. Lama.

"Ini bisa apa aja," katanya akhirnya. "Orang skeptis emang selalu ada."

"Iya. Tapi pola kalimatnya—"

"Gue tahu." Bagas menegakkan badan. "Belum cukup untuk bilang ini terkoordinasi. Tapi juga belum cukup untuk bilang bukan."

Rini, dari mejanya, tanpa menoleh: "Simpan dulu. Kalau ini beneran sesuatu, besok atau lusa polanya bakal lebih jelas. Sekarang belum saatnya ngejar itu."

Firla menutup dokumennya. Rini benar. Ada terlalu banyak hal pagi ini yang lebih mendesak dari satu pola komentar yang belum bisa dibuktikan apa-apa.

Tapi ia tidak menghapusnya.

"Kita nulis apa?" tanya Firla.

Pertanyaan itu menggantung sebentar. Bukan karena tidak ada yang mau menjawab — karena jawabannya tidak sesederhana kelihatannya.

"Semua orang bakal nulis soal ini hari ini," kata Bagas akhirnya. "Media besar, media kecil, semua akun yang punya lebih dari seratus follower. Kita nggak akan jadi yang pertama, dan kita nggak akan jadi yang paling cepat."

"Terus?"

"Terus kita nggak ngejar itu." Bagas kembali ke mejanya, duduk untuk pertama kalinya sejak Firla masuk. "Kita punya sesuatu yang orang lain nggak punya."

Firla menatapnya.

"Spreadsheet lo," kata Bagas. "Dimas bukan nama pertama di situ. Dan bukan yang terakhir."

Ruangan SUDUT sunyi sebentar.

"Lo mau kita publish pola itu sekarang?" tanya Firla. Suaranya sendiri terdengar tidak yakin di telinganya sendiri. "Sekarang? Pas semuanya masih segini panas?"

"Nggak," kata Bagas. "Belum. Datanya belum cukup kuat buat berdiri sendiri kalau ada yang nyerang balik. Tapi hari ini—" ia berhenti sebentar, memilih kata, "—hari ini kita kumpulin. Kita catat siapa yang mulai berani ngomong, siapa yang masih diam, apa yang pemerintah bilang, gimana mereka bilangnya. Semua ini bahan. Nanti."

Rini akhirnya menoleh sepenuhnya dari layarnya.

"Nanti lagi," katanya. Bukan sinis. Lebih ke seseorang yang sudah lelah dengan kata itu tapi tahu kata itu masih benar.

"Nanti lagi," kata Bagas. "Tapi bedanya sekarang, nanti-nya udah keliatan bentuknya."

Firla membuka spreadsheet-nya.

Baris Dimas Pratama sudah ada di sana sejak lama. Ia scroll ke baris itu, kolom keempat — status sekarang.

Yang tertulis di sana masih yang lama: HP mati, kos masih ada barang, belum confirmed hilang.

Firla menatap kalimat itu.

Kalimat itu ditulis waktu status Dimas masih ambigu, masih bisa jadi apa saja — pergi sendiri, sembunyi karena masalah organisasi, atau sesuatu yang lebih buruk. Sekarang kalimat itu terlihat seperti sesuatu dari dunia lain, dari waktu ketika semua masih bisa dijelaskan dengan kemungkinan yang lebih ringan.

Ia mengetik ulang.

Rekaman CCTV beredar 14 Nov (tanggal). Belum ada konfirmasi resmi. Video menunjukkan indikasi kekerasan — detail belum diverifikasi independen.

Ia menatap kalimat barunya.

Lalu di bawahnya, di baris kosong, ia menambahkan satu catatan lagi. Bukan data. Hanya sesuatu yang perlu ditulis di suatu tempat supaya tidak hilang begitu saja di kepalanya.

Kami sudah tahu namanya sejak lama. Kami tidak bisa apa-apa dengan itu sampai orang lain yang bergerak duluan.

Ia menatap kalimat itu sebentar.

Lalu tidak menghapusnya.

Pukul delapan, Firla keluar sebentar untuk sarapan — bukan karena lapar, tapi karena Bagas menyodorkan uang dan bilang beli apa aja yang bisa dimakan cepat, dan tidak ada yang membantahnya.

Warung terdekat dari SUDUT ramai lebih dari biasanya untuk jam segini.

Bukan warung besar — hanya warung nasi kucing kecil dengan tiga meja, yang biasanya isinya pekerja kantoran yang mampir sebentar sebelum jam kerja. Pagi ini, orang-orang yang biasanya makan cepat dan pergi malah duduk lebih lama, HP di tangan masing-masing, sesekali menunjukkan layar ke orang di sebelahnya.

"Lo udah lihat?" kata seorang laki-laki ke temannya, dua meja dari tempat Firla mengantre.

"Udah. Ngeri banget."

"Ini beneran kan? Bukan hoax?"

"Gue nggak tau. Tapi kalau hoax, kenapa nggak ada yang langsung bantah dari awal?"

Yang lain di sebelahnya, seorang perempuan dengan seragam kerja, menyeruput tehnya sebelum bicara.

"Serem sih. Tapi ya gimana lagi. Bukan urusan kita juga."

"Kok bukan urusan kita? Ini di negara kita."

"Maksud gue, kita mau ngapain juga. Nggak ada yang bisa kita lakuin."

Percakapan itu berhenti sebentar. Salah satu dari mereka mengaduk kopinya lebih lama dari perlu.

"Ya udah sih," kata yang perempuan akhirnya. "Semoga aja diusut."

Kalimat itu keluar dengan nada yang sudah Firla dengar berkali-kali sebelumnya, dari mulut orang yang berbeda-beda, untuk hal-hal yang berbeda-beda. Nada orang yang tahu kalimat itu tidak akan membawa ke mana-mana, tapi mengucapkannya tetap terasa lebih baik daripada tidak mengucapkan apa-apa.

Di kasir, pemilik warung — seorang bapak yang biasanya hanya mengangguk singkat pada pelanggan — sedang menonton HP-nya sendiri di sela melayani.

"Nasi kucing tiga, Pak," kata Firla.

Bapak itu mengangguk, meletakkan HP-nya sebentar, membungkus pesanan.

"Rame ya pagi ini, Pak," kata Firla, tidak benar-benar bertanya.

"Rame," kata bapak itu. "Orang pada mampir cuma buat ngobrol." Ia menyerahkan bungkusan. "Kayaknya lagi ada yang gede."

"Iya, Pak."

"Anak saya juga kuliah," kata bapak itu, tiba-tiba, tanpa Firla tanya. "Kadang saya suka mikir. Kalau anak saya kenapa-kenapa, apa ada yang bantu cari."

Firla tidak langsung menjawab.

"Semoga nggak, Pak," katanya akhirnya.

Bapak itu mengangguk, mengambil uang dari Firla, tidak melanjutkan.

Di jalan pulang ke SUDUT, Firla melewati kios rokok kecil dengan TV kecil menyala di dalamnya, volumenya bisa terdengar sampai trotoar.

Bukan channel gosip lagi. Channel berita.

Seorang anchor laki-laki, wajah serius yang dipaksakan tapi kelihatan, membaca dari layar.

"— pihak kepolisian menyatakan sedang melakukan penyelidikan mendalam terkait video yang beredar. Sementara itu, sejumlah organisasi hak asasi manusia mendesak pemerintah untuk membentuk tim independen—"

Di bawah layar, running text bergerak.

...Pemerintah tegaskan komitmen pada supremasi hukum dan transparansi...

...Presiden akan memberikan keterangan resmi dalam waktu dekat...

...Sejumlah organisasi masyarakat sipil serukan investigasi terbuka...

Firla berdiri sebentar di depan kios itu, menonton tanpa masuk.

Nada anchor-nya berbeda dari yang biasa Firla dengar dari channel-channel besar. Tidak selincah biasanya, tidak seyakin biasanya. Seperti seseorang yang membaca skrip yang ditulis terburu-buru oleh orang lain yang sendiri belum tahu harus bilang apa.

Ia menatap layar itu beberapa detik lagi.

Lalu melanjutkan jalan.

Kembali di SUDUT, Rini sedang menelepon seseorang dengan suara dipelankan, membelakangi pintu.

Bagas menerima nasi kucingnya tanpa berkata banyak, membuka bungkusnya sambil mata masih ke laptop.

"Ada apa?" tanya Firla, menunjuk ke arah Rini yang masih menelepon.

"Kontak media besar," kata Bagas. "Rini kenal orang yang kerja di salah satu stasiun TV nasional. Katanya internal lagi ribut."

"Ribut gimana?"

"Sebagian tim redaksi mau ngangkat ini besar-besaran. Sebagian lagi — yang lebih tua, yang lebih lama di sana — bilang jangan dulu, tunggu arahan."

Firla duduk, membuka bungkus nasinya, tidak langsung makan.

"Arahan dari siapa?"

Bagas tidak menjawab langsung. Menyendok nasinya, mengunyah, baru bicara.

Lihat selengkapnya