Manggalayuda (Sengkelat)

Hermawan
Chapter #1

Sayembara

“Apa yang terjadi?” Sultan Sami Aji tampak gelisah. Alis matanya mengeryit keatas. “Jika para denawa itu menyerang Jayakarta.”

Sultan Sami Aji terlihat tegang. Dia merasa cemas dan waspada.

“Apa para denawa itu membuatmu takut, kanjeng Sultan,” kata Patih Mahasura. Wajahnya nampak kalem, dia sambil menyeringai.

Sultan Sami Aji tak termakan ucapannya. Dia lelaki tua, lebih dari lima puluh tahun, dan sudah melihat penguasa datang dan pergi. “Jayakarta bukan hanya wilayah Mataram tetapi merupakan pelabuhan strategis untuk perdagangan,” kata Sultan Sami Aji. “Kita wajib untuk melindungi dan mempertahankannya.”

“Memang itu tugas seorang raja,” kata Patih Mahasura. “Bukannya belum terbukti bahwa denawa menyerang Jayakarta. Bukti apa yang kanjeng Sultan miliki?”

“Laporan Tumenggung Mangiran!” kata Sultan Sami Aji. “Teliksadi yang berada di Jayakarta mengirimkan laporannya padanya.”

Terlihat Tumenggung Mangiran ada di paseban. Wajahnya memang nampak gelisah. Dia seperti ketakutan.

“Benarkah itu Mangiran!” cetus Patih Mahasura. “Apa kau telah menyelidikinya sendiri?”

“Hanya abdiku yang bilang begitu,” kata Mangiran mendengus. “Tetapi dari berita yang beredar mereka telah mendarat di pelabuhan Jayakarta. Mereka menjadikan para penguasa Jayakarta menjadi bawahannya. Bahkan dari cerita abdiku meraka memakan manusia.”

“Sebaiknya kau usut dahulu berita itu,” kata Patih Mahasura. “Jika memang terbukti kita wajib menyelamatkan rakyat kita.”

Tumenggung Mangiran belum berbicara lagi. Wajahnya masih ketakutan, terlihat tubuhnya bergetar. Sepertinya ada hal lain yang ingin dilaporkannya. ‘

“Apa ada hal lain yang membuatmu begitu ketakutan?” cetus Patih Mahasura. “Apa masalah baru telah terjadi Temunggung Mangiran?”

Patih Mahasura memperhatikannya. Tatapan begitu tajam dan mengintimidasi Temunggung Mangiran. Tetapi memang begitulah wataknya. Dia memberikan semangat melalui kata-kata pedasnya. Ekspresinya memang keras dan menyeringai sengit.

“Begini kakang Patih!” kata Mangiran agak suram. “Ada duta penglawung.”

Mahasura mengedikkan bahu. “Duta penglawung,” kata Mahasura mengulang. “Duta arti utusan. Penglawung artinya Rajapati. Memang siapa yang meninggal?”

Mangiran gelisah dan bimbang menatap Patih Mahasura. “Anu…,” kata Mangiran terbata-bata. Matanya sedikit ragu. “Manggalayuda Barata.” Dia terlihat gelisah melaporkannya.

Mahasura bergidik. Dia menelan ludah. “Angger Barata,” ulang Mahasura membelalak masam.

Wajah Patih Mahasura terlihat suram. Dia menjadi terguncang hatinya. Dia ingin tahu buktinya. Dia mengedikkan bahu. “Apa itu benar?” tanya Mahasura. “Apa kau membawa buktinya?”

Temunggung Mangiran maju memberikan bungkus kain pada Patih Mahasura. Bungkusan itu dibuka. Wajah Mahasura begitu terkejut. Terlihat kepala Manggalayuda Barata telah dipenggal dengan kejam. Darah merah segar mengepul dibawah lehernya.

Mahasura terkesiap. Dia membelalak syok. “Angger Barata,” cetus Mahasura. “Mangiran! Siapa yang berani memenggal Angger Barata.” Dia mengeryitkan dahi. Matanya menyorot tajam ke arah Mangiran.  

Mangiran sedikit menunduk. “Ampun kakang Patih,” kata Mangiran suram. “Angger Manggalayuda Barata dipenggal oleh jendral denawa.”

Dia terlihat was-was mengatakannya.

Mahasura bergidik sengit. “Dipenggal Jendral Denawa,” kata Mahasura. “Bagaimana bisa? Memang apa yang terjadi?”

Mangiran bangkit. Dia mengedikkan bahu. “Laporan dari teliksadi mengenai kedatangan Denawa ke Jayakarta…,” kata Mangiran. “Dimas Manggalayuda Barata langsung murka. Dia langsung berangkat ke Jayakarta.”

Matanya mengeryit. Alisnya sedikit terangkat. “Bagiamana bisa?” tanya Mahasura sengit. “Kenapa dia tak melapor dahulu?”

Mangiran bergidik sengit. “Sebenarnya dia mau melapor dahulu…,” kata Mangiran was-was. “Tetapi melihat keadaan yang belum pasti, dia memutuskan untuk menyelidikinya dahulu. Tetapi waktu pagi tiba ada bungkusan kain datang ke Benteng Baratan. Setelah saya buka ternyata, kepala Manggalayuda Barata telah dipenggal. Ada surat tertinggal dalam bungkusan itu.”

Mangiran menyerah sepucuk surat kepada Patih Mahasura. Patih Mahasura membuka surat. Dia terlihat ketakutan ketika membaca surat itu.

Wajahnya suram masam. Ekspresinya membeku hening. Mahasura mengedikkan bahu datar. “Ini membuktikan…,” katanya mendengus. “Bahwa Denawa telah mendarat ke Jayakarta. Mereka akan menyerang ibu kota dalam waktu dekat ini, jika Mataram tidak menyerah dalam waktu ini.”

Patih Mahasura yang tadi agak santai berbicara, kala itu juga dia terlihat waspada dan ketakutan. Dia menghadap ke Sultan Sami Aji untuk memberi laporan.

Mahasura berpaling menatap teduh dan was-was ke arah Sultan Aji. “Ampun, kanjeng Sultan!” katanya tajam. “Laporan itu memang terbukti benar. Manggalayuda Barata telah dipenggal kepalanya. Dan ada sepucuk surat menjadi buktinya.”

Sultan bergidik sengit. “Apa?” cetus Sultan Sami Aji sengit. “Dimas Barata telah tiada. Bagaimana bisa ini terjadi?”

Sultan Sami Aji terlihat lesu tak berdaya. Ketika dia menatap kepala Barata yang berlumur darah membuat matanya meneteskan air mata dan hatinya sakit memandangnya.

Mahasura memberikan surat itu. Sepucuk surat itu diserahkan pada Sultan Sami Aji. Dengan lantang Sultan Sami Aji membacanya.

 

Jika dalam waktu dekat Mataram tidak tunduk dihadapan kerajaan Setra, maka Mataram akan diserang dan dibinasakan.

Tertanda

Jendral Denawa

Jendral Mandrakala

 

Rasa pahit menelan ludah Sultan Sami Aji. Agul-agul perang telah meninggal. Sebagai Pos Jendral untuk menyerbu Jayakarta belum dapat dipastikan.

“Bagaimana ini paman patih?” cetusnya. “Siapa sekarang yang mengganti posisi dimas Barata?” Sultan Sami Aji terlihat pucat. Dia memusyawarahkan dengan Patih Mahasura.

“Mohon maaf, kanjeng Sultan,” kata Mahasura tajam. “Bagaimana kalau pos Jendral Mataram diberikan saja pada Tumenggung Ranggadewa.” Usul Mahasura lebih terburu-buru, karena dia merasa hanya Ranggadewa yang pantas mengantikkan Barata.

Sultan terkesiap. “Ranggadewa,” cetus Sultan Sami Aji mengulang. “Tumenggung Lumajang itu memang miliki kesaktian setara dengan dimas Barata.Tetapi aku tak setuju tingkah dan sifatnya…”

 Dia masih menimang-nimang usulan dari patih Mahasura. Terlihat dia berfikir keras duduk di singgasana kerajaan. Tangannya yang memegang dagu terlihat bahwa dia mempertimbang dengan cermat mengenai usulan patih Mahasura.

Sultan mengedarkan pandangan dan mengedikkan bahu. “Apa tidak ada pilihan lain?” cetus Sultan Sami Aji. “Bagaimana paman Mangiran? Apa paman mau mengisi pos jendral sekarang ini?” Dia berpaling menatap Manggiran dengan tajam dan sengit.

“Mohon maaf! Kanjeng Sultan,” kata Mangiran. “Saya sudah tua, lebih baik yang muda diberikan kesempatan.”

“Betul apa kata paman?” kata Sultan Sami Aji mendengus. “Tetapi siapa menurut paman?”

Mangiran memperhatikan paseban. Dia memandang orang-orang yang ada dipaseban. Memang para tumenggung ada dalam paseban itu, tetapi hanya beberapa saja. Jadi dia masih bingung dan ragu untuk mengusulkan. Apalagi wajah para tumenggung lainnya seperti ketakutan.

“Apa tak sebaiknya kita menunggu kanjeng Syekh Mahdi?” kata Mangiran memberi pilihan. “Beliau pasti tahu siapa yang pantas mengisi pos Manggalayuda sekarang ini.”

Sultan menganggukkan kepala. “Memang bopo Syekh Mahdi memiliki pemikiran luas mengenai hal ini,” kata Sultan Sami Aji. “Tetapi beliau belum bisa hadir dalam paseban ini karena…”

Bertek-bertek dari kejauhan. Jubah yang melambai-lambai melangkah ringan menuju paseban.

“Assalamualaikum,” ucap Syekh Mahdi. “Kula ingkang sowan, kanjeng Sultan!”

“Wa’ alaikum sallam,” ucap salam semua dipaseban.

Beliau mulai melangkah kakinya meluncur masuk ke area paseban. Beliau terlihat bijaksana dan berwibawa ketika beliau melewati para tumenggung, senopati, dan beberapa bangsawan kerajaan. Beliau menempati tempat duduk yang dipersiapkan untuknya.

“Monggo bopo Syekh,” kata Sultan Sami Aji. “Belum lama ini kami semua mengharapkan kedatangan bopo Syekh dalam paseban ini. Bekti saya bopo Syekh.”

Sultan Sami Aji melangkah menghampiri Syekh Mahdi dan mencium tangannya. Ibarat perilaku untuk menghormati orang yang dianggap sesepuh kerajaan Mataram. Para tumenggung dan senopati dalam paseban turut mengucapkan bekti padanya dan mencium tangan kanan beliau.

Mahdi mengedikkan bahu. “Ada apa nak mas sultan?” tanya Syekh Mahdi. “Masalah ya masalah. Tetapi jangan terlalu dipikirkan, nanti banyak menyebabkan penyakit yang mengganggu kesehatan nak mas sultan.”

“Tetapi… bopo syekh…,” kata Sultan Sami Aji parau. “Kerajaan kita telah kehilangan manggalayuda, bagaimana kita tidak panik. Sebentar lagi pasti para denawa akan menyerang kota mataram ini.”

“Sebaiknya…,” kata Syekh Mahdi. “Kita berikan penguburan yang layak untuk Manggalayuda Barata. Dan tepat dihari jum’at ini, semoga dia diampuni dosa dan diberi tempat yang layak disurga Allah SWT.”

“Bopo syekh benar,” kata Sultan Sami Aji. “Apalagi ini hari jum’at. Lebih baik kita ke masjid untuk mendirikan sholat jum’at terlebih dahulu. Baru kita menguburkan dimas Barata. Dan masalah mengenai kerajaan dapat dikerjakan setelah itu.”

“Memang itu tanda orang beriman,” kata Syekh Mahdi. “Sholat merupakan kewajiban kita bagi orang beriman, karena sholat merupakan bukti pengabdian kita sebagai hamba dihadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.”

Beliau diam sejenak, beliau memperhatikan sekeliling istana Mataram. Beliau tersenyum lembut memandang Sultan Sami Aji.

“Sebagai bukti bahwa sholat itu adalah penting,” kata Syekh Mahdi. “Kita bisa melihat sejarah sholat. Dimana sholat adalah amal ibadah yang pertama diwajibkan. Sedangkan ibadah puasa, zakat, dan haji datang kemudian.”

Lihat selengkapnya