Wara-wara sayembara Sultan Sami Aji mulai tersebar di wilayah Katemenggungan Lumajang. Kabar burung mengenai sayembara itu terdengar ditelinga Raden Ranggadewa.
Duduk di kursi katemenggungan Raden Ranggadewa bersama Ki Lurah Bendowo dan Ki Lurah Martarejo. Mereka saling pandang di ruang tamu katemenggungan. Untuk sesaat mereka saling menahan nafas. Mereka merasakan udara pagi di wilayah ketamenggungan. Matahari baru terbit dengan sinar yang menyinari dedaunan. Segala berubah hijau dan mempesona mata.
“Paman Lurah Bendowo,” kata Ranggadewa. “Apa benar sayembara Manggalayuda diadakan di Mataram?”
Dia menatap tajam ke arah Lurah Bendowo dan penuh rasa penasaran.
“Kabar burungnya memang seperti itu,” kata Lurah Bendowo. “Bukan begitu kang Mas Lurah Martareja.”
Dia menguatkan argument kebenaran sayembara dengan melemparkan pada Lurah Martareja. Matanya berpaling tajam menyorot wajahnya.
“Tepat sekali,” kata Lurah Martareja mendengus sengit. Dia mengambil sepucuk gulungan di ikat pinggangnya dan memberikannya pada Raden Ranggadewa.
Raden Ranggadewa membuka gulungan itu, dia membaca secara saksama apa yang tertulis di gulungan itu. Matanya tak berkedip ketika membaca tulisan dalam gulungan itu. Wajahnya begitu berbinar-binar saat dia membacanya.
“Memang benar kabar itu,” kata Ranggadewa. “Ini ada titah Sultan untuk para Ksatria pemberani agar menyerang Jayakarta dari pasukan denawa. Tetapi…”
Dia masih terlihat ragu diwajahnya. Matanya tampak kurang bergairah melihat sayembara itu.
“Tetapi apa nak Mas Tumenggung?” tanya Lurah Bendowo menyeringai. “Bukankah jelas bahwa sayembara itu berhadiah untuk mendapatkan posisi Manggalayuda dan wilayah kadipaten Jayakarta.”
“Bukan itu masalahnya,” kata Raden Ranggadewa mendengus gelisah. “Tetapi bukankah ini meremehkan para senopati dan tumenggung kerajaan Mataram.”
Martareja mengedikkan bahu. “Jika dilhat dari keadaannya memang begitu,” kata Lurah Martareja. “Tetapi sayembara itu atas usulan Kanjeng Syekh Mahdi, jadi Kanjeng Sultan Sami Aji mengikuti apa katanya. “
Ranggadewa menatap kea rah tiang penyangga katemengungan. “Kanjeng Syekh Mahdi,” kata Ranggadewa mengulang. “Beliau memang orang kepercayaan Kanjeng Sultan, Tetapi jika dalam hal ini para senopati atau tumenggung tidak ada yang berani mengikuti sayembara itu jelas merupakan penghinaan bagi mereka. Apa belum ada senopati atau tumenggung yang mempupu sayembara itu.”
Bendowo menyorot tajam ke Tumenggung Ranggadewa. “Seminggu ini,” kata Lurah Bendowo. “Para senopati atau tumenggung belum ada yang mengikuti sayembara itu. Mereka masih takut untuk menyerang Jayakarta. Manggalayuda Barata yang gagah dan digdya saja berhasil di penggal kepalanya oleh Jendral Denawa hingga membuat para senopati atau tumenggung enggan mempupu sayembara itu.”
“Jelas sekali,” kata Ranggadewa jumawa. “Bahwa hanya Ranggadewa yang berani melawan pasukan denawa di Jayakarta.”
Mata Ranggadewa terlihat berbinar-binar. Wajahnya tersambar bahagia dan jumawa.
“Memang benar,” kata Lurah Martareja ceria dan sengit. “Siapa ksatria yang bisa sebanding dengan Manggalayuda Barata, selain nak Mas Raden Ranggadewa?”
Dia memberikan kesan memuji Raden Ranggadewa. Watak Lurah Martareja memang menaikkan semangat orang yang diajak bicara.
Bendowo mengedikkan bahu. “Apa nak mas raden punya rencana untuk mempupu sayembara itu?” tanya Lurah Bendowo.
“Sudah jelas,” jawabnya sengit. “Besok aku akan sowan ke keraton Mataram.”
Wajahnya terlihat sombong dan jumawa. Dia tersenyum sinis memandang luar jendela.
*****
Pagi hari yang cerah di keraton Mataram. Matahari menyambar daun-daun basah yang berembun. Melihat mata begitu terpana menyaksikan indahnya suasana asri di keraton Mataram.
Ketika Sultan Sami Aji mengumumkan seyembara itu, hampir seminggu belum ada laporan tentang para peserta sayembara. Para senopati atau tumenggung kurang bergairah untuk mempupu sayembara itu. Mereka masih miris ketakutan atas keganasan dan kebrutalan pasukan denawa.
Sultan Sami Aji merupakan raja adil dan bijaksana. Dia tak akan memaksa orang atau bangsawan mengikuti apa maunya jika mereka sudah menolaknya. Termasuk dalam sayembara itu, para senopati atau tumenggung yang berani mengikuti sayembara itu tak dipaksanya, mereka diberikan kesempatan untuk memilih sendiri.
Sultan Sami Aji merupakan Sultan Mataram kedua setelah ayahnya meninggal yaitu Sultan Panata. Ketika Sultan Sami Aji naik tahta dia masih terbilang muda, sehingga pemerintahannya dipegang Patih Mahasura. Ketika dia menginjak dewasa, baru kemudian dia mengendalikan sendiri pemerintahannya.
Sultan Sami Aji memiliki perawakan tinggi dan jangkung serta gagah, dia merupakan senopati ulung di medan laga ketika masih muda. Tetapi karena kematian ayahnya menyebabkan dia meninggalkan medan laga. Dia focus membangun kerajaannya melalui Senopati Agung yang diciptakannya. Posisi pertama memang baru dipegang Raden Barata adik sepupunya sendiri, tetapi karena keganasan para pasukan denawa menyebabkan posisi Manggalayuda kosong sementara. Sehingga dia mengadakan sayembara untuk mengisi kekosongan itu.
Paseban agung di keraton Mataram kembali digelar. Sehabis sholar zuhur, Sultan Sami Aji duduk di sigasananya. Disamping kanannya ada Syekh Mahdi, Senopati Martayudan, Senopati Purbaya, Senopati Tambakbaya dan yang lainnya. Sementara samping kiri ada Patih Mahasura, Senopati Sakri, Senopati Kiniten, Tumenggung Manggiran, Tumenggung Kudapaksa, Tumenggung Wanujaya dan para tumenggung lainnya.
“Bektiku bopo syekh Mahdi,” kata Sultan Sami Aji.
“Ya nak Mas Sultan,” jawabnya. “Pangestuku terimalah nak mas sultan.”
“Saya angkat di atas kepala supaya jadi berkah,” kata Sultan Sami Aji. Dia bangkit dan mendekat. Dia mencium tangan kanan syekh Mahdi. Lalu dia kembali lagi duduk disigasananya.
Sultan Sami Aji menghela nafas.
“Apa sudah ada ksatria yang ikut sayembara ini bopo Syekh Mahdi?” tanyanya. “Sudah Seminggu ini tak ada laporan tentang adanya kstaria yang mempupu sayembara ini. Apa tidak salah jika sayembara di lanjutkan?”
Sultan Sami Aji mempertanyakan tentang keefektifan sayembara itu.
“Nak mas sultan sabar,” kata syekh Mahdi. “Kita tunggu sampai seminggu lagi, pasti ada yang berani mengikuti sayembara ini.”
Beliau memberikan arahannya. Sikap sabar dan arifnya terpancar dari matanya.
Belum lama sang sultan membahas lagi. Tiba-tiba…..