Sungguh diluar apa yang dipikirkan orang? Memang terjadi politik kekuasan untuk mendapatkan jabatan. Bila uang berbicara atau siasat licik untuk menjatuhkan orang. Memang itu politik negara.
Aliran sungai begitu deras. Suara gemericik air yang membuat mata memandang sungguh terpesona. Batu-batu sungai yang menyebar memberikan warna keindahan. Ketika suara tawa terdengar. Mereka terlihat bahagia bukan kepalang. Jika memang indah dipandang pasti gadis-gadis bermandian di sungai itu. Memang itu terjadi.
Dua orang gadis terlihat mencuci di pinggiran sungai itu. Mereka membasuh pakaian kotornya dengan sambaran air sungai. Mereka menampilkan wajah bahagia dan tersenyum mengambang. Ketika kedua gadis muda tertawa terlihat barisan gigi rapi yang berjajar biji mentimun. Mereka memakai pakaian yang mempesona mata. Gaun yang mereka pakai hanya menutup bahu hingga mata kaki. Memang indah untuk dipandang mata.
Ketika aliran sungai itu mengalir deras. Sang gadis yang lebih tua melihat tubuh manusia terbawa arus sungai. Ia terdampar di pinggiran sungai.
“Diajeng!” katanya. “Apa itu? Sepertinya tubuh manusia.”
“Mana kang mbok,” balasnya.
Tangan gadis yang lebih tua itu menunjukk ke arah tubuh manusia yang terbawa arus sungai.
Mereka menghampiri tubuh manusia yang terdampar di pinggir sungai. Mereka membalik tubuhnya untuk melihat apakah masih hidup atau sudah mati. Ketika sang kakak membalik tubuh lelaki, wajah lelaki itu memancarkan pesona yang menyilaukan matanya.
“Tampan sekali diajeng!” gumannya. “Wajahnya memang mempesona.”
Dia tersipu malu memperhatikan wajah lelaki itu.
“Ah kang mbok bisa aja,” kata adiknya.
Mereka memperhatikan tubuh lelaki itu dengan saksama. Tangan adiknya mendekat merasakan udara dilubang hidungnya. Kemudian dia mengecek denyut nadinya.
“Ia masih bernafas,” kata adiknya. “Denyut nadi masih ada. Sepertinya ia hanya pingsan. Ada luka parah di samping perut kang mbok!”
Kakaknya memperhatikan wajahnya hingga dia terbius entah kemana imajinasinya. Raut muka berbinar-binar hingga dia tak bergeming terhadap adiknya.
“Lebih baik cepat-cepat kita bawa ke pondok!” katanya. “Tak pantas lelaki tampan dan muda ini sampai mati begitu saja.”
Dia masih begitu peduli terhadap lelaki pingsan itu. Sepertinya dia telah terlena dengan ketampanannya.
“Baik!” kata adiknya.
Mereka membawa lelaki ke pondok milik gurunya.
******
Ia merasakan sakit begitu dalam. Ketika ia bangun, ia memperhatikan sekelilingnya. Ia tak yakin dimana ia berada. Tangannya tanpa sengaja memegang tangan seorang gadis. Gadis ini manis, tapi Arga tidak tahu siapa gadis itu dan apa yang dirinya lakukan di sana. Arga duduk tegak dan menggosok-gosok matanya, mencoba berpikir.
“Pertama kali ia ingat hanya wajah orang yang tertawa,” pikirnya. “Tetapi kenapa ia berada di pondok ini. Apa yang terjadi padanya.”
Pondok itu sungguh memiliki pesona udara, ia merasakan kesejukkaan dan kesegaran ketika menghirupnya. Ia melihat tubuhnya ada balutan kain yang membungkus di samping perutnya. Ia memutar otaknya apa yang terjadi sebelumnya. Ia berusaha berpikir ke belakang ... ke hal terakhir yang ia ingat ...
Ia ingat bahwa ia mengikuti sayembara. Tetapi apa yang terjadi selanjutkan ia tak bisa mengingat. Terakhir ia hanya melihat tawa.
“Kau sudah bangun!” guman gadis itu.
Ia masih memegang tangan gadis itu. Akhirnya ia melepaskan tangan gadis itu. “Mmm, aku tak..” Gadis itu tersipu, ada rona merah merona di raut wajahnya. Matanya berbinar-binar begitu mempesona mata. Dia memakai jubbah panjang merah muda. Hijabnya yang dikenakan sama warnanya hingga pesona memang memberikan dahaga. Sungguh imut dan rupawan ketika ia memandangnya.
“Aku ada dimana?” tanyanya. “Seperti ini bukan kerathon Mataram.”
Gadis itu terkejut bukan kepalang. Dia begitu kaget mengenai ucapan anak muda itu.
“Kerathon Mataram,” kata gadis itu. “Memang kau bangsawan kerathon.”
“Bukan!” kata anak muda itu. “Aku seorang ksatria, aku mengkuti sayembara yang diadakan kerathon mataram. Tetapi kenapa aku ada disini. Jelas aku seharusnya menyerang Jayakarta.”
Ia masih terlihat bingung. Wajahnya begitu polos dan lembut berbicara.
“Tenang saja,” kata gadis itu. “Jayakarta berhasil direbut kembali oleh Manggalayuda Adipati Ranggadewa.”
“Jadi...!” kata anak muda itu. “Pasukan denawa yang ada di Jayakarta telah pergi.”
Ia masih penasaran tentang apa yang terjadi di Jayakarta. Ia terlihat bingung untuk mencari informasi darinya.
“Mengenai masalah itu,” kata gadis itu. “Aku belum tahu. Tetapi sekarang Jayakarta telah menjadi wilayah Mataram.”
Anak muda itu bergidik. “Jadi…!” kata anak muda itu. “Sayembara itu telah dimenangkan oleh Raden Ranggadewa. Sepertinya aku pernah mendengar nama itu. Tetapi dimana? Ingatanku masih kabur. Hal ketika aku berada di kerathon mataram, aku hanya berhadapan dengan Sultan Sami Aji. Dan ingatan terakhirku. Ketika aku melihat tawa. Setelah itu entah kemana…..”
“Memang apa yang terjadi,” kata gadis itu. “Kami menemukanmu tergelatak di pinggir sungai. Ada luka panah sangat parah di samping perutmu.”
Dia memberitahu kejadian yang terjadi pada Arga.
“Aku tak ingat!” kata anak muda itu. “Ingatan terakhirku hanya tawa seorang yang begitu bahagia.”
Ia terlihat memegang kepala. Gadis itu tahu bahwa ia mencoba berfikir ke belakang tentang ingatannya.
“Jangan terlalu keras berfikir,” kata gadis itu. “Sebaiknya kau beristirahat, lukamu belum sembuh benar.”
“Terima kasih,” kata anak muda itu. “Aku belum tahu namamu. Kau cantik dan begitu mempesona, tak baik jika belum mengetahui namamu.”
Dia tersipu malu ketika anak muda itu memandang dengan senyumannya. Dia begitu manis saat wajahnya melihat langsung ke arah matanya.
“Maaf!” katanya. “Aku Dewi Sekarwangi. Aku murid padekopan Jati Kusuma.”
“Aku Arga,” kata Arga. “Lebih tepat Arga Maruta.”
Mereka saling pandang satu sama lainnya. Terlihat ada rona bahagia diwajah mereka.
“Ehmm!” guman seorang gadis yang baru datang. “Kalian sedang apa?”
Dia begitu sinis menatap Dewi Sekarwangi. Tatapannya ada rasa cemburu dalam bola matanya. Dia memakai jubbah biru muda, memang terlihat indah jika dipandang mata, apalagi perpaduan hijabnya memang sangat mempesona. Tetapi Arga tak begitu peduli keindahannya. Ia hanya memandang sebelah matanya saja.