Manifesting

Langgeng Ikhtiar Pribadi
Chapter #1

Prolog

Malam itu, isi kepala Kania terasa seperti ruangan pasca-bencana. Di atas meja kerjanya yang berantakan, draf revisi desain interior kelima belas dari kliennya berserakan di antara tumpukan cangkir kopi instan yang mengering. Di sudut layar laptop yang menyala, sebuah pesan teks dari ibunya berkedip, menuntut jawaban atas pertanyaan-pertanyaan hidup yang tidak pernah sanggup Kania dekorasi ulang.

Dunia nyata terlalu bising, terlalu penuh sesak, dan Kania telah kehilangan kendali atas setiap jengkal ruang dalam hidupnya.

Sambil memijat pelipisnya yang berdenyut, Kania menatap langit-langit kamarnya yang retak. Di titik puncak kelelahan mentalnya, sebuah lintasan pikiran yang dingin melintas di kepalanya. Dia tidak menangis. Dia hanya berbisik pada kegelapan, sebuah keinginan yang begitu presisi:

Lihat selengkapnya