Manifesting

Langgeng Ikhtiar Pribadi
Chapter #2

BAB 1: Takaran Kopi yang Presisi

Dua sendok teh kopi bubuk tanpa gula, seratus delapan puluh mililiter air panas dengan suhu tepat sembilan puluh derajat Celcius, dan diaduk berlawanan arah jarum jam sebanyak tujuh kali. Tidak boleh lebih, tidak boleh kurang.

Kania memperhatikan pusaran air hitam di dalam cangkir keramik putihnya dengan saksama. Tangannya bergerak stabil, tanpa tremor yang biasanya selalu setia menemaninya setiap pagi di dunia nyata. Setelah hitungan ketujuh, dia mengangkat sendok kecilnya, membiarkan tetesan terakhir kopi jatuh kembali ke permukaan yang kini tenang membentuk lingkaran sempurna.

Sempurna. Terlalu sempurna.

Kania membawa cangkir itu ke meja makan. Sebagai seorang desainer interior, matanya secara otomatis melakukan pemindaian cepat terhadap ruangan seluas empat kali empat meter itu. Meja makan kayu jati di tengah ruangan, dua kursi yang berhadapan dengan jarak tepat enam puluh sentimeter dari kaki meja, dan sebuah vas bunga kaca di tengahnya yang berisi satu tangkai mawar putih segar.

Tidak ada debu. Tidak ada sisa remah roti dari sarapan kemarin. Bahkan serat kayu pada meja makan itu terlihat begitu sejajar, seolah-olah sang pohon tumbuh dengan menggunakan penggaris besi.

Kania menyesap kopinya. Rasanya persis seperti rasa kopi yang selalu dia dambakan di kepalanya saat dia sedang stres di dunia nyata: pahit yang pekat, tanpa rasa gosong dari air yang terlalu mendidih.

"Pagi, Kania Sayang. Kopinya sudah pas?"

Sebuah suara lembut memecah kesunyian. Kania tidak terlonjak. Dia bahkan tidak menghentikan sesapan keduanya. Dengan gerakan kasual, dia menurunkan cangkir, lalu menoleh ke arah ruang tengah.

Di sana, ibunya sedang berdiri tegak di dekat jendela. Beliau mengenakan daster batik mega mendung berwarna biru, pakaian yang sama dengan yang beliau pakai saat terakhir kali Kania melihatnya di dunia nyata.

Bedanya, daster itu kini tampak sangat rapi, tanpa kerutan di bagian lengan atau bekas noda minyak di dekat dada. Rambut ibunya disanggul cepol dengan presisi tinggi—tidak ada satu helai pun anak rambut yang mencuat keluar.

Dan yang paling ganjil adalah senyumnya. Ibunya tersenyum simetris, memperlihatkan deretan gigi yang rapi, dengan sudut bibir yang ditarik sama rata ke kiri dan ke kanan. Matanya terbuka lebar, menatap Kania tanpa berkedip.

Lihat selengkapnya