Ayah muncul tepat pukul tujuh lewat lima belas menit.
Kania tidak perlu melihat jam dinding untuk mengetahuinya. Dia hanya perlu melihat posisi bayangan kaki kursi di lantai parket yang bergeser satu milimeter, menandakan pencahayaan di ruangan itu berganti dari fase “early morning” ke “breakfast time”. Di dunia ini, matahari tidak bergerak; intensitas lampu ruanganlah yang berpura-pura menjadi waktu.
Langkah kaki Ayah terdengar berirama. Tap. Tap. Tap. Jeda antar langkahnya konstan, seolah-olah Ayah berjalan di atas ubin yang dipasangi sensor ketukan. Beliau mengenakan kemeja flanel kotak-kotak biru dan celana khakis yang licin disetrika.
Kemeja itu adalah favorit Ayah di dunia nyata, tapi di sini, flanel itu tidak memiliki serat yang mencuat atau kancing yang sedikit longgar. Semuanya tampak seperti baru saja keluar dari katalog render 3D berkualitas tinggi.
“Selamat pagi, Kania. Bagaimana tidurmu? Nyenyak?”
Ayah menarik kursi di depan Kania. Sudut tarikannya tepat empat puluh lima derajat. Beliau duduk dengan punggung tegak, tangan diletakkan di atas meja dengan posisi telapak tangan kiri menindih telapak tangan kanan.
Kania menatap Ayahnya. Dia mencari kerutan di dahi yang biasanya muncul karena Ayah sering memikirkan tagihan listrik, atau sisa noda kopi di sudut bibir. Tidak ada. Wajah Ayah halus, pori-porinya hampir tidak terlihat, dan sorot matanya jernih namun kosong—seperti lensa kamera yang belum menemukan titik fokus.
“Nyenyak, Yah. Tidak ada mimpi buruk. Tidak ada suara alarm,” jawab Kania. Dia sengaja tidak menambahkan imbuhan emosi. Di sini, kalimat yang datar adalah mata uang yang paling aman.
“Bagus. Tidur yang cukup adalah kunci produktivitas. Apakah kamu siap menghadapi hari ini?”
Kania tersenyum tipis, sebuah senyum yang lebih mirip dengan tarikan otot sarkastis. “Siap menghadapi apa, Yah? Proyek apartemen yang kliennya minta konsep industrial tapi bajetnya minimalis? Atau menghadapi revisi struktur yang bikin saya mau makan penggaris?”
Ayah diam. Beliau tidak tertawa. Beliau juga tidak mengernyit bingung. Responsnya adalah sebuah jeda statis selama tiga detik—fase loading yang sudah mulai familiar bagi Kania.
“Bagus. Tidur yang cukup adalah kunci produktivitas. Apakah kamu siap menghadapi hari ini?” Ayah mengulang kalimatnya dengan intonasi yang identik. Titik dan komanya tidak bergeser satu hertz pun.
Kania mengangguk pelan. Dia sudah tahu aturannya sekarang. Dialog di dunia ini bersifat simetris. Jika kamu memberikan input yang tidak ada dalam pustaka memori kenyataan ini, sistem akan melakukan reset ke baris dialog terakhir yang dianggap valid. Dunia ini tidak mengenal improvisasi, apalagi satir.