Ruang kerja Kania adalah tempat di mana presisi menemukan rumahnya.
Di dunia nyata, ruangan ini biasanya menyerupai medan perang pasca-badai; potongan kertas maket, katalog kain gorden yang berceceran, dan tumpukan penggaris segitiga yang selalu hilang saat dibutuhkan. Namun di sini, di balik pintu kayu bercat putih yang engselnya tidak pernah berdecit, segalanya telah ditata oleh seorang perfeksionis yang obsesif.
Di atas meja gambar arsitektur yang miring, tiga puluh dua pensil mekanik dan rapido berbaris rapi. Jarak antar pensil tepat satu sentimeter. Ujungnya menghadap ke arah yang sama, sejajar seperti barisan tentara yang siap mati demi estetika.
Di rak buku sebelah kiri, ratusan buku referensi arsitektur dan jurnal desain interior disusun berdasarkan spektrum warna—mulai dari putih bersih, gradasi abu-abu, hingga hitam pekat di sudut paling bawah.
Kania berjalan mendekati meja kerjanya. Dia tidak menyentuh pensil-pensil itu. Dia hanya menggeser posisi sebuah penghapus balok kecil sejauh setengah milimeter menggunakan ujung jari telunjuknya, memastikan benda itu sejajar tegak lurus dengan sudut meja.
"Pas," gumamnya pelan.
Dia menduduki kursi kerjanya yang ergonomis. Kursi itu sangat nyaman, menopang tulang belakangnya dengan sempurna tanpa perlu disetel ulang. Kania menyandarkan punggungnya, menatap monitor komputer berukuran dua puluh tujuh inci yang ada di hadapannya. Layar itu menyala, menampilkan perangkat lunak desain 3D yang biasa dia gunakan.
Namun, ada yang kosong. Tidak ada pop-up notifikasi surel dari klien yang menuntut revisi instan. Tidak ada panggilan masuk dari kontraktor di lapangan yang mengeluhkan salah ukuran dinding. Di sudut kanan bawah layar, waktu digital menunjukkan pukul 08:00.
Kania memperhatikan angka itu selama satu menit penuh. Detiknya bergerak, namun ketika angka itu berubah menjadi 08:01, pencahayaan di dalam ruangan tidak bergeser sedikit pun. Waktu di sini hanyalah angka yang berganti, bukan penanda usia atau perubahan nasib.
Dia menggerakkan tetikus, membuka lembar kerja kosong. Dia tidak berniat mendesain sebuah rumah untuk orang lain lagi. Cukup sudah hari-hari di mana jiwanya terkikis demi memenuhi fantasi estetika orang-orang kaya yang plin-plan di Jakarta. Di dunia manifes ini, dia adalah satu-satunya klien yang harus dia puaskan.