Manifesting

Langgeng Ikhtiar Pribadi
Chapter #5

BAB 4: Ketukan di Pintu Depan

Pukul sepuluh lewat sepuluh menit. Pencahayaan ruangan berganti ke fase “mid-day” yang hambar. Cahaya putih buatan berpendar dari langit-langit, memotong semua bayangan dramatis dan membuat setiap sudut rumah Kania terlihat steril, seperti foto studio yang kelebihan pencahayaan.

Kania sedang berada di lorong tengah saat mendengar suara itu.

Tok. Tok. Tok.

Suaranya tidak datang dari kaca jendela ruang kerja seperti sebelumnya. Kali ini, bunyinya berat, solid, dan bergema dari arah ruang tamu. Seseorang—atau sesuatu—sedang mengetuk pintu depan rumahnya.

Kania menghentikan langkah. Tangannya yang sedang memegang sebuah kemoceng bulu sintetis tetap tenang di sisi tubuhnya. Dia tidak menahan napas. Detak jantungnya berdenyut dalam ritme yang sama rata, konstan dan dingin.

Di dunia nyata, ketukan pintu di jam kerja biasanya berarti tiga hal: paket material datang, tagihan air yang terlambat, atau ibunya yang datang berkunjung tanpa memberi tahu untuk memeriksa apakah Kania sudah mencuci piring. Di sini, di dalam ruang manifes yang meleset ini, ketukan itu berarti dunia luar sedang mencoba menuntut atensinya lagi.

Tok. Tok. Tok.

Ketukan kedua lebih berirama, dengan interval jeda tepat satu detik antar ketukan. Terlalu mekanis untuk ukuran tangan manusia.

Kania berjalan menuju ruang tamu. Saat dia melangkah keluar dari lorong, dia melewati ruang makan. Di sana, Ayah dan Ibu masih duduk di posisi yang sama seperti dua jam lalu. Ayah menatap piring rotinya yang kosong, sementara Ibu menatap vas bunga mawar di tengah meja. Mereka berdua mematung, masuk ke mode standby karena Kania tidak sedang berinteraksi dengan mereka. Mereka bahkan tidak menoleh saat suara ketukan pintu itu menggema keras di ruangan yang sama.

Kania tiba di depan pintu jati besar bercat putih. Dia berdiri setengah meter di depannya, menatap gagang pintu kuningan yang berkilau bersih tanpa noda sidik jari.

"Kalau Anda kurir paket, taruh saja di luar," kata Kania, suaranya kasual, bergema datar di ruang tamu yang sunyi. "Tapi di luar sana sudah tidak ada halaman, jadi saya tidak tanggung jawab kalau paketnya jatuh ke dalam kabut abu-abu."

Tidak ada jawaban. Hanya ada jeda sunyi selama dua detik—ritme loading yang khas—sebelum ketukan itu kembali terdengar.

Lihat selengkapnya