Manifesting

Langgeng Ikhtiar Pribadi
Chapter #6

BAB 5: Radius Jangkauan Tangan

Pukul dua belas tepat. Fase pencahayaan masuk ke mode “noon”. Lampu-lampu di langit-langit memancarkan pendar putih yang mutlak, menghilangkan seluruh gradasi bayangan di bawah meja dan kursi. Semuanya terlihat datar, dua dimensi, dan sangat bersih.

Kania berdiri di  ruang tengah. Tangannya memegang sebuah penggaris siku besi sepanjang tiga puluh sentimeter. Di dunia nyata, alat ini adalah perpanjangan jarinya untuk memastikan garis di atas kertas kalkir tidak melenceng satu milimeter pun. Di sini, alat itu berubah fungsi menjadi tongkat pengukur kewarasan.

Dia mengulurkan tangannya ke kanan. Ujung penggaris besi itu langsung menyentuh permukaan halus wallpaper dinding ruang tengah. Dia memutar tubuhnya sembilan puluh derajat ke kiri, mengulurkan tangan yang sama, dan ujung besi itu kembali membentur permukaan kayu lemari pajangan.

Radius kendalinya kini telah menyusut hingga ke titik yang paling harfiah: sejauh jangkauan tangannya sendiri.

Rumah ini tidak lagi terasa seperti sebuah bangunan resmian. Ruang makan, ruang tamu, dan lorong tengah telah melebur, terlipat oleh semesta manifes yang terus memangkas detail-detail yang dianggap Kania tidak penting. Sofa ruang tamu kini berada tepat di sebelah meja makan, dan pintu menuju kamarnya hanya berjarak tiga langkah dari tempatnya berdiri.

Anehnya, Kania tidak merasa sesak yang memicu kepanikan. Dia justru merasakan kepuasan yang aneh—sensasi yang sama seperti saat dia berhasil menata seluruh fungsi apartemen tipe studio berukuran dua puluh meter persegi menjadi sangat efisien dan fungsional.

“Kania Sayang, siang ini mau makan apa?”


Suara Ibu terdengar dari jarak yang sangat dekat. Kania menoleh tanpa menurunkan lengan bersenjata penggarisnya. Karena ruangan yang menyusut, Ibu kini duduk di kursi meja makan yang letaknya hanya satu meter dari sisi kanan Kania. Beliau masih mengenakan daster mega mendung biru yang sangat rapi. Di tangannya ada sebuah sendok sayur perak yang kosong. Beliau menatap Kania dengan mata terbuka lebar tanpa berkedip, sudut bibirnya mengunci di posisi senyum simetris yang biasa.

“Saya tidak lapar, Bu,” jawab Kania kasual. “Lagipula, kompor di dapur sudah hilang sejak jam sebelas tadi karena dinding belakang maju. Ibu mau masak pakai apa? Energi pikiran?”

Lihat selengkapnya