Manifesting

Langgeng Ikhtiar Pribadi
Chapter #7

BAB 6: Kejanggalan yang Ramah

Pukul empat sore. Di dunia nyata, ini adalah waktu di mana bayangan memanjang secara dramatis, memberikan sentuhan melankolis pada fasad bangunan. Namun di sini, pencahayaan berganti ke fase “late afternoon” dengan cara yang malas: pendar lampu di langit-langit meredup sepuluh persen, mengubah warna ruangan dari putih steril menjadi abu-abu semen yang kusam.

Kania masih duduk di lantai, bersandar pada kaki meja makan. Ruangan ini kini telah stabil di dimensi terbarunya—sebuah kotak sempit berukuran kurang dari tiga meter persegi.

Anehnya, dinding-dinding yang mendekat itu tidak lagi terasa mengancam. Mereka terasa seperti pelukan sebuah kotak kardus baru yang pas; kaku, protektif, dan membatasi pandangan dari hal-hal yang tidak perlu dilihat.

"Kania, teh hangatnya sudah siap. Minum ya, biar pikiranmu tenang."

Suara Ibu datang dari atas kepalanya. Kania mendongak. Karena ruang yang menyusut, jarak antara kepala Kania di lantai dan ujung daster Ibu yang duduk di kursi hanya berkisar dua puluh sentimeter. Di tangan Ibu kini ada sebuah cangkir teh keramik hijau dengan tatakan yang senada.

Ibu tersenyum. Senyum itu masih simetris, namun ada kejanggalan baru yang merayap di wajahnya. Sudut mata Ibu tidak lagi berkerut saat tersenyum. Kulit di sekitar pipinya tampak terlalu tegang, seolah-olah tekstur wajahnya mulai kehilangan detail pori-pori dan perlahan berubah menjadi sehalus permukaan plastik polimer.

Kania mengulurkan tangan, mengambil cangkir teh itu dari jemari Ibu yang terasa dingin dan terlalu licin saat tidak sengaja bersentuhan.

"Terima kasih, Bu," kata Kania. Dia menyesap tehnya. Rasanya manis, dengan aroma melati yang sangat pekat—hampir terlalu pekat, seperti wewangian aromaterapi ruangan dosis tinggi yang sengaja diciptakan untuk menyamarkan bau ruangan mati.

"Sama-sama, Kania Sayang. Ibu selalu tahu apa yang terbaik untukmu," jawab Ibu. Intonasinya ramah, sangat ramah, seperti suara operator layanan pelanggan yang telah dilatih puluhan tahun untuk tidak pernah terdengar lelah.

Kania meletakkan cangkir teh itu di lantai, tepat di sebelah kakinya. Dia menatap Ayah yang duduk di seberang Ibu. Karena meja makan di antara mereka telah memendek secara paksa untuk menyesuaikan diri dengan dinding yang menyusut, lutut Ayah kini hampir menyentuh lutut Ibu di bawah meja.

Lihat selengkapnya