Manifesting

Langgeng Ikhtiar Pribadi
Chapter #8

BAB 7: Ruang yang Menyusut

Dinding-dinding itu tidak lagi bergerak secara sembunyi-sembunyi. Mereka kini melangkah maju secara terang-terangan, seperti sepasang rahang beton yang sedang mengunyah sisa-sisa dimensi fisik rumah Kania.

Pukul delapan malam. Tidak ada warna jingga senja atau kegelapan malam yang perlahan turun. Pendar lampu di langit-langit mendadak meredup drastis, menyisakan pencahayaan “night mode” yang minim: seberkas cahaya temaram berwarna kekuningan yang hanya berpusat tepat di atas meja makan. Di luar radius cahaya itu, segalanya adalah kegelapan gulita yang pekat, seolah-olah ruangan ini telah mematikan fungsi seluruh piksel arsitektur yang tidak lagi disentuh oleh Kania.

Kotak hidup Kania kini telah menyusut hingga berukuran kurang dari dua meter persegi.

Dinding belakang telah mendesak punggung kursi Ayah, memaksa tubuh pria flanel itu merapat ke tepi meja. Di sisi lain, dinding depan telah menelan lemari pajangan dan pintu lorong, menyisakan permukaan rata berwarna kelabu kusam yang kini berdiri tepat sepuluh sentimeter di belakang kepala Ibu.

Ruang gerak Kania di atas lantai parket telah habis. Dia terpaksa berpindah, naik ke atas meja makan kayu jati itu untuk menemukan tempat bagi kedua kakinya.

Kania duduk bersila di atas permukaan kayu yang dingin, memeluk kedua lututnya. Penggaris siku besi sepanjang tiga puluh sentimeter diletakkan horizontal di depannya, menjadi batas suci antara dirinya dan kedua manekin sosial di bawahnya.

“Kania, tidurlah. Malam sudah larut. Ibu sudah merapikan tempat tidurmu,” kata Ibu.

Suara Ibu kini terdengar aneh. Ada distorsi statis yang samar di sela kalimatnya, seperti suara rekaman pita kaset tua yang pita magnetiknya mulai mengelupas. Kania mendongak, menatap wajah ibunya yang berada tepat di bawah lutut kirinya.

Wajah Ibu telah kehilangan hampir seluruh fitur manusianya. Mulutnya tidak lagi terbuka saat berbicara; suara itu langsung keluar dari bagian lehernya yang kini tampak datar tanpa jakun atau urat nadi. Sepasang matanya telah berubah menjadi dua bulatan hitam legam yang rata, kehilangan kornea dan sklera, menyerupai mata boneka kain yang dijahit terburu-buru.

Namun, Ibu tetap tersenyum. Senyum simetris yang kini tampak mengerikan karena kulit di sudut bibirnya mulai retak, memperlihatkan lapisan material abu-abu polos di baliknya.

Lihat selengkapnya