Satu meter persegi.
Itu adalah seluruh luas semesta Kania saat ini. Meja makan jati yang tadinya luas kini telah terpotong habis oleh dinding kelabu, menyisakan sepotong papan kayu berbentuk bujur sangkar yang pas-pasan untuk menampung tubuh bersilanya. Pendar lampu kuning di atas kepalanya menyusut menjadi seberkas sorot cahaya teater yang vertikal dan sempit. Di luar lingkaran cahaya itu, kegelapan adalah sebuah dinding padat yang mutlak.
Ayah dan Ibu telah lenyap sepenuhnya, tertelan ke dalam beton kelabu saat dinding merapat di bab sebelumnya. Kania kini benar-benar sendiri.
Namun, keheningan steril itu tidak bertahan lama. Dari dalam kegelapan di depan wajahnya, terdengar sebuah suara yang sudah sangat lama tidak dia dengar. Suara yang tidak berasal dari rutinitas rumah tangganya, melainkan dari sudut paling bising di masa lalunya.
Bzzzt.
Suara statis berdengung pelan, diikuti oleh munculnya seberkas cahaya biru berpendar dari kegelapan. Piksel-piksel di udara mulai menyusun sebuah bentuk di ujung papan kayunya. Perlahan, sesosok manekin baru terbentuk dengan tingkat rendering yang mengejutkan: setelan jas kerja yang sedikit kusut, jam tangan pintar yang berkedip menampilkan grafik saham, dan sepasang mata yang memiliki pupil kelabu datar.
Itu adalah Dimas. Mantan kekasihnya di dunia nyata, pria yang dua tahun lalu meninggalkannya karena Kania dianggap "terlalu terobsesi pada pekerjaan dan tidak punya ruang untuk masa depan".
"Kania, kamu masih di sini?" tanya replika Dimas. Suaranya memiliki tekstur gema yang aneh, seolah-olah suaranya dikirim dari dalam sebuah pipa besi yang panjang. "Pukul berapa sekarang? Proyekmu belum selesai juga? Kamu selalu saja mengurung diri di ruangan sempit."