Nol koma delapan meter persegi.
Dimensi semesta Kania kini telah mencapai batas arsitektur yang paling mustahil. Papan kayu jati tempatnya duduk bersila kini tak lebih luas dari selembar ubin kamar mandi. Sorot lampu kuning di atas kepalanya mengental, memadat menjadi seberkas silinder cahaya yang sempit dan tajam. Di luar lingkaran cahaya itu, kegelapan berdiri sepekat dinding semen basah, menekan tepat di depan ujung lutut dan di belakang bahunya.
Tidak ada ruang lagi untuk melangkah. Tidak ada ruang lagi untuk sekadar meluruskan kaki.
Di dalam keheningan yang begitu steril hingga suara detak jantungnya sendiri terdengar seperti ketukan palu, dunia manifes ini mulai mengerahkan tekanan psikologis tertingginya. Ruangan ini tidak lagi mengirimkan manekin dari masa lalu Kania. Kali ini, ia mencoba memecah kesunyian dengan suara-suara.