Nol koma lima meter persegi.
Angka itu bukan lagi sebuah ukuran arsitektur yang logis untuk tempat tinggal manusia. Itu adalah dimensi sebuah tabung isolasi. Papan kayu jati di bawah pantat Kania kini telah sepenuhnya lenyap, digantikan oleh permukaan kelabu kusam yang dingin dan terlalu rata. Sorot lampu kuning di atas kepalanya mengental, memadat menjadi seberkas silinder cahaya vertikal yang begitu sempit. Di luar lingkaran cahaya berdiameter kurang dari satu meter itu, kegelapan berdiri sepekat semen basah yang mengeras, menekan tepat di depan ujung lutut, menyentuh kedua siku yang terlipat, dan menempel di belakang bahunya.
Kania tidak bisa lagi mengubah posisi duduk bersilanya. Setiap embusan napasnya yang berat membuat dadanya bergeser maju, bergesekan langsung dengan dinding kegelapan di depannya yang terasa taktil—padat, dingin, dan memiliki tekstur seperti plastik polimer yang halus.
Di dalam ruang yang hampir menyentuh titik nol ini, atmosfer terasa begitu menyesakkan. Udara di sekitarnya steril, absen dari sirkulasi, dan membawa aroma melati kusam yang konstan. Ini adalah titik di mana klaustrofobia seharusnya mengambil alih kewarasan seseorang. Di dunia nyata, dalam kondisi seperti ini, otak manusia akan melepaskan adrenalin dalam jumlah masif, memicu paru-paru untuk merengek meminta oksigen, dan memaksa tangan untuk menggedor dinding dalam histeria yang buta.
Namun, Kania menolak untuk memberikan pertunjukan itu.
Dia duduk dengan dagu yang ditopang di atas kedua lutut yang tertekuk erat ke dada. Penggaris siku besi sepanjang tiga puluh sentimeter masih dia dekap horizontal di antara perut dan pahanya. Matanya yang lelah namun jernih menatap lurus ke depan, ke arah dinding kegelapan yang jaraknya hanya beberapa milimeter dari ujung hidungnya. Detak jantungnya berdenyut dalam ritme yang sama rata, konstan, dan sangat dingin.
Bzzzt.
Sebuah getaran statis yang tajam merobek keheningan steril ruangan. Semesta manifes ini tampaknya mulai frustrasi karena seluruh tekanan ruang dan suara sebelumnya gagal meruntuhkan pertahanan mental Kania. Kini, ia mengerahkan upaya terakhirnya: mendistorsi hukum fisika secara visual tepat di depan mata Kania.