Pasca-pembekuan, semesta Kania berubah menjadi sebuah instalasi seni makro yang mati.
Kotak setengah meter persegi tempatnya duduk kini terasa seperti satu-satunya panggung yang memiliki warna di tengah-tengah ruang pameran yang gulita. Cahaya kuning di atas kepalanya tidak lagi memancar, melainkan membeku menjadi sebuah tabung kaca tak kasat mata yang mengunci posisinya di atas lantai kelabu.
Kania membuka matanya perlahan. Ritme gerakannya kasual, tanpa sisa ketegangan. Dia mengulurkan tangan kanan ke arah dinding kegelapan di samping bahunya, mencoba melakukan inspeksi visual terhadap sisa-sisa dunianya.
Ketika tangannya menembus batas hitam itu, Kania tidak menemukan kehampaan. Kegelapan di sekitarnya ternyata tidak benar-benar kosong; ia telah memadat menjadi sebuah material baru yang ganjil. Saat diraba, teksturnya terasa seperti gabungan antara beton mentah dan plastik kemasan yang kaku. Distorsi-distorsi visual dari babak sebelumnya—seperti potongan piksel kemeja flanel Ayah, sudut meja jati yang terpotong, hingga pecahan cahaya biru dari jam tangan manekin Dimas—kini telah berhenti bergerak.
Semua kerusakan realitas itu mengunci di posisinya masing-masing, berjalan di dalam kegelapan seperti barang-barang pecah belah yang sengaja dicor di dalam semen bening. Mereka telah resmi berubah menjadi dekorasi tetap yang ganjil. sebuah museum dari kesalahannya sendiri.
Kania menarik kembali tangannya, menatap ujung jemarinya yang bersih tanpa debu. Humornya kembali menyapa keheningan steril di dalam tabung cahayanya.