Manifesting

Langgeng Ikhtiar Pribadi
Chapter #14

BAB 13: Monoton yang Abadi

Nol koma lima meter persegi bukanlah sebuah ruang untuk hidup, melainkan sebuah koordinat spasial yang menolak mati.

Di dalam tabung silinder cahaya kuning temaram yang mengunci tubuh bersilanya, Kania tidak lagi memiliki konsep tentang jarak atau perpindahan. Setiap jengkal ruang di luar radius jangkauan tangannya telah mengeras menjadi kegelapan taktil yang kaku.

Semesta manifes ini telah menyelesaikan seluruh proses penyusutan dan pembekuannya. Tidak ada satu piksel pun yang bergetar. Tidak ada satu molekul udara pun yang bergeser. Segalanya telah mencapai titik monoton yang absolut—sebuah keabadian yang statis, bersih, dan sepenuhnya bebas dari dinamika.

Kania membuka matanya perlahan. Detak jantungnya berdenyut dalam ritme yang sangat lambat, konstan, dan stabil. Rasa sesak yang pekat kini telah melebur dengan sistem pernapasannya, menciptakan semacam toleransi biologis yang aneh. Dia tidak lagi merasa seperti tercekik; dia hanya merasa seperti sebuah objek dekoratif yang diletakkan di dalam kotak pajangan kaca yang kedap udara.

Dia menatap penggaris siku besi sepanjang tiga puluh sentimeter yang tergeletak horizontal di depan lututnya. Angka-angka milimeter pada permukaan besi itu tampak sangat tajam di bawah sorot cahaya kuning vertikal. Kania mengulurkan jemarinya, menyusuri tepi penggaris itu dengan gerakan yang sangat lambat, kasual, dan berulang.

Satu kali. Dua kali. Tiga kali.

Di dunia nyata, waktu adalah musuh utama yang selalu mengejarnya dengan cambuk berupa tenggat waktu proyek, alarm ponsel yang menjerit setiap pukul lima pagi, dan dering panggilan masuk dari kontraktor lapangan yang panik. Waktu di dunia nyata adalah sebuah garis linear yang terus bergerak maju, menyeret paksa jiwanya yang kelelahan menuju ekspektasi-ekspektasi sosial yang tidak pernah sanggup dia penuhi.

Lihat selengkapnya