Nol koma lima meter persegi telah berubah menjadi sebuah ruang domestik yang mutlak. Di dalam silinder cahaya kuning vertikal yang tidak lagi memancarkan kehangatan thermal, Kania memulai satu-satunya aktivitas yang tersisa di dalam semestanya yang salah: sebuah ritual penataan ulang yang mikro, obsesif, dan sepenuhnya kasual.
Dia tidak lagi memiliki kasur kapuk yang empuk, tidak memiliki seprai katun bermotif geometris yang dulu dia pilih dengan penuh pertimbangan estetika untuk kamarnya di Jakarta.
Yang dia miliki saat ini hanyalah permukaan lantai kelabu kusam sewarna semen basah di bawah pantatnya, dan sepotong kegelapan taktil setebal beberapa sentimeter di belakang punggungnya yang telah mengeras membentuk sandaran vertikal yang kaku.
Namun, di kepala seorang desainer interior, ketiadaan material tekstil bukan berarti absennya kewajiban untuk merapikan tempat tidur.
Kania bergeser perlahan, melonggarkan sedikit lipatan kakinya yang telah mengunci dalam posisi bersila selama hitungan waktu yang tidak lagi berputar.
Setiap gerakan kecil tubuhnya menimbulkan suara gesekan kain dasternya yang terdengar begitu nyaring di tengah keheningan steril ruangan.
Jarak antara permukaan kulit lututnya dan batas kegelapan padat di depannya kini benar-benar hanya tersisa satu milimeter—sebuah batas toleransi ruang yang begitu tipis, mirip dengan celah sambungan pada furnitur knock-down berkualitas premium.
Dia mengulurkan kedua tangannya ke depan. Jemarinya yang dingin bergerak dengan ritme yang lambat, meraba permukaan lantai kelabu di antara kedua pahanya.