Nol koma lima meter persegi kini telah mencapai kesempurnaan eksistensinya.
Di dalam silinder cahaya kuning vertikal yang membeku tanpa pendar, Kania tidak lagi merasakan perpindahan waktu. Detak jantungnya berdenyut dalam ritme yang begitu konstan dan lambat, seolah-olah organ di dalam dadanya telah menyesuaikan diri dengan arsitektur dunia yang statis ini. Tidak ada udara yang berembus. Tidak ada debu yang jatuh. Keheningan steril ruangan ini telah mengkristal, membungkus tubuh bersilanya dalam sebuah keabadian yang paling kasual.
Kania menatap lurus ke depan. Jarak antara ujung hidungnya dan dinding kegelapan padat kini benar-benar telah menyentuh batas nol milimeter. Permukaan hitam di hadapannya tidak lagi terasa dingin atau mengancam; ia terasa seperti selembar kain beledu mati yang membatasi pandangannya dari segala hal yang tidak perlu dia lihat.
Dia menunduk, menatap satu-satunya jangkar logika yang tersisa di atas lantai kelabu di antara kedua pahanya: penggaris siku besi sepanjang tiga puluh sentimeter.