Suara sirine ambulans meraung membelah kemacetan malam Jakarta, terdengar begitu asing, kasar, dan menusuk telinga. Suara itu berangsur-angsur mendekat, lalu mendadak mati, meninggalkan sisa dengung yang ganjil di koridor lantai tiga sebuah rumah kos di kawasan Jakarta Barat.
Pintu kamar nomor 302 itu sudah terbuka paksa. Bagian kusen kayunya retak di dekat lubang kunci, menyisakan serpihan tripleks yang berserakan di atas lantai lorong. Pemilik kos, seorang pria paruh baya dengan napas yang memburu, berdiri di ambang pintu sambil memegangi sebuah obeng besar. Wajahnya pias, matanya menatap nanar ke arah dalam ruangan yang pengap.
Di dalam kamar berukuran tiga kali tiga meter itu, realitas dunia nyata sedang mempertontonkan wujudnya yang paling berantakan.
Udara di dalam ruangan terasa berat, pekat oleh bau apek pakaian kotor yang belum sempat dicuci, sisa aroma kopi instan yang mengering di dasar belasan cangkir plastik, dan bau debu dari tumpukan kertas kalkir. Di atas meja kerja yang berantakan, sebuah laptop berspesifikasi tinggi masih menyala statis, memancarkan pendar cahaya biru yang dingin ke seluruh ruangan.
Layar komputer itu menampilkan kotak dialog berwarna merah dari sebuah perangkat lunak desain 3D: “Rendering Failed. Out of Memory.” Di bawah meja kerja itu, di antara ceceran draf revisi desain interior kelima belas yang dipenuhi coretan spidol merah dari klien, Kania tergeletak.
Tubuhnya miring ke kanan, meringkuk kaku seperti posisi janin di dalam rahim. Pakaiannya—sebuah daster batik mega mendung berwarna biru yang sudah mulai pudar warnanya—tampak kusut dan berkerut di bagian pinggang.
Rambutnya yang dikuncir kuda sudah berantakan, beberapa helai anak rambut menempel di pipinya yang basah oleh keringat dingin. Sepasang matanya terpejam rapat, kelopak matanya bergetar halus, namun tubuhnya sama sekali tidak merespons ketika dua orang petugas paramedis berompi oranye berlutut di sampingnya.
“Nadi lemah, seratus sepuluh kali per menit. Napas dangkal,” ujar salah satu petugas paramedis dengan suara taktis yang terburu-buru. Dia mengarahkan senter pen kecil ke arah mata Kania, memeriksa refleks pupilnya. “Ada tanda-tanda dehidrasi berat dan kelelahan ekstrim. Severe burnout. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit sebelum kesadarannya menurun lebih jauh.”
Di sudut kasur tunggal yang belum dirapikan, seorang wanita paruh baya duduk sambil memeluk tas tangannya dengan erat. Tubuhnya gemetar hebat. Air mata mengalir deras, merusak riasan tipis di wajahnya yang kini tampak puluhan tahun lebih tua.
Itu adalah Ibu Kania yang asli.
Beliau tidak sedang tersenyum simetris. Tidak ada sudut bibir yang ditarik kaku dengan presisi tinggi. Wajahnya dipenuhi oleh gurat-gurat penyesalan yang pecah, asimetris, dan sangat manusiawi.
Tangannya yang keriput sesekali terangkat untuk menutup mulutnya, mencoba menahan suara tangisan agar tidak meledak di tengah kepanikan petugas yang sedang memasangkan masker oksigen ke wajah putrinya.
“Kania... Kania Sayang, bangun, Nak...” bisik Ibu, suaranya parau, pecah oleh rasa bersalah yang luar biasa.