Mantan, Masa Gitu?

Niexora Grey
Chapter #1

Ketemu mantan?

◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦


"Kamu saya pecat!" suara bosnya melengking seperti lembaran naskah yang disobek dengan paksa.


Raina berdiri kaku di depan meja meeting. Sampai-sampai tngannya menegang di sisi tubuhnya. Pandangannya terasa buram karena isi kepalanya sudah mirip kaset yang sudah kusut. Ah, yang benar saja. Kata-kata sang bos membuatnya nyaris pingsan.


"Kesalahan di layout edisi khusus itu fatal. Kami rugi besar. Kamu menghilangkan satu halaman penuh iklan premium. Tahu kamu berapa nilainya?" suara bosnya makin naik dan melengking.


Raina menelan ludah dengan susah payah. "Aku tahu, aku tahu semuanya. Tapi aku benar-benar khilaf kemarin. Kepala penuh masalah. Tunjangan yang sedang kupikirkan. Tabungan pernikahan yang terancam musnah. Tunangan kabur dibawa sahabat sendiri," batinnya.


"Saya ... saya bisa jelaskan," ucap Raina lirih.


"Tidak perlu! Kamu editor senior. Seharusnya kamu yang paling teliti. Saya tidak menerima alasan apa pun. Kamu diberhentikan mulai hari ini."


Raina tidak mampu membantah lagi. Apa pun yang keluar dari mulutnya sekarang hanya akan terdengar seperti rengekan. Bosnya sudah punya keputusan, dan Raina tidak punya energi lagi untuk membela diri. Atau, nama baiknya yang jadi korban.


Dia keluar dari ruangan dengan langkah kosong. Seperti jalan tanpa gravitasi. Tanpa masa depan. Langkah khas orang putus asa plus putus cinta. Putus cinta karena ditinggal tunangan.


Begitu pintu tertutup, air matanya langsung tumpah dengan deras. Cukup memalukan bagi gadis berusia 25 tahun. Bagaimana tidak? Air mata dan lendir keluar masuk dari hidungnya sendiri.


"Aduh." Dia mengusap ingus dan air mata dengan ujung kerudungnya. Persis seperti anak kecil yang tidak diajari etika.


Jorok? Sudah. Biarkan saja. Saat hidup berantakan, estetika bukan prioritas lagi. Masabodo soal itu.


Dia turun ke parkiran sambil mencoba bernapas. Tapi setiap tarikan napas terasa seperti sekarung pasir yang menekan dadanya. Kasihan.


Tunangan kabur. Kerjaan hilang. Tunjangan lenyap. Masa depan menggantung seperti cat kuku mau kering tapi malah kebentur pintu. Ambyar! Gagal cantik sudah.


Raina berhenti di salah satu sudut parkiran, menatap kosong ke udara. Lalu, tanpa kontrol, mulutnya terbuka juga dengan lebar.


"AAAAARRRRGGHH!" teriaknya keras sampai burung-burung di atas papan gedung beterbangan.


Raina mengangkat kedua tangan ke kepala. "Kenapa hidupku begini?! Kenapa?!"


Dia menghentakkan kaki, seperti sedang memprotes kontrak hidup yang tidak pernah dia sepakati sejak lahir. Tiba-tiba jadi begini, tiba-tiba jadi begitu. Menyesakkan dada.


"Aneh sekali. Teriakannya seperti anak kecil yang skarat minta es krim."


Raina membeku. Suara itu terdengar sangat familiar baginya. Dia berbalik. Tentu saja.


Arga Wiradipa berdiri di samping mobil hitam mengilap, menyandarkan bahu seperti sedang mengamati fenomena alam yang langka. Jasnya sangat rapi. Rambutnya klimis. Dan ekspresi wajahnya itu ... ah, itu yang paling memancing emosi Raina.


Dia tertawa kecil. "Saya kira tadi ada orang bertengkar dengan jin di parkiran."


Raina mengedip beberapa kali. Tentu tidak percaya. Arga? Di sini? Di hari sialnya? Matanya bahkan nyaris kelilipan melihat sang mantan. Entah kaget karena kehadiran, atau karena penampilan yang sembilan puluh derajat, jauh berbeda.


"Kenapa kamu lihatin saya seperti itu?" tanya Arga. "Jangan-jangan kamu gagal move on sampai masih memantau saya dari jauh?"


Raina mendengus, "Jangan merasa spesial."


"Ah, berarti iya." Arga tersenyum tipis, sok menang.


Raina ingin melempar sepatunya ke arah pria itu. Atau minimal tuh, helm lain dilempar ke kepalanya.


Tapi sebelum mulutnya siap membalas, satu kenangan menyambar seperti pintu lama yang dibuka angin. Kenangan masa lalu, saat mereka masih SMA dulu.


Suara Raina gemetar oleh amarah dan sakit hati.


"Udah miskin, jelek, belagu! Masih selingkuh pula!"


Arga berdiri di depannya dengan wajah pucat, napas pendek nyaris berhenti. "Rai, aku gak seperti itu."


"Bohong!" Raina mengangkat ponselnya, menunjukkan foto yang dikirimkan temannya. Arga bersama seorang perempuan di kantin sebelah sekolah.

Lihat selengkapnya