Raina menggerutu sepanjang jalan, baik dalam hati maupun di bibirnya. "Kenapa harus ketemu Arga hari ini? Dan kenapa harus dalam kondisi paling menyedihkan seumur hidupku?"
Bayangan dirinya menangis, teriak di parkiran, ingusan, lalu disaksikan mantan pacar yang sekarang tampil seperti direktur majalah fashion—itu terlalu kejam.
Raina menghentikan motornya di lampu merah, menarik napas panjang. Mencoba untuk tetap tenang. "Fokus. Sekarang bukan waktunya mikirin Arga Wiradipa dan wajah sok dinginnya." Perutnya berbunyi, protes keras. "Ya, aku tahu. Kita makan dulu," gumamnya.
Dia mampir ke rumah makan sederhana dekat rumah sakit. Nasi, sayur, dan lauk seadanya. Rasanya hambar karena kejadian absurd, tapi setidaknya perutnya tidak kosong. Dia makan tanpa benar-benar menikmati. Kepalanya sibuk menghitung: uang tabungan, biaya rumah sakit, obat ibu, dan fakta bahwa mulai hari ini, dia resmi jadi pengangguran.
"Wah, mengerikan. Hidup pengangguran!" katanya dengan pelan. "Semangat, Rai. Besok cari kerja lagi. Demi ibu!" batinnya.
Selesai makan, Raina melaju ke rumah sakit. Begitu melangkah masuk ke bangsal, wajahnya langsung berubah. Senyum ditarik dengan paksa, bahu ditegakkan, langkah dipercepat. Mode anak baik aktif. Buang dulu mode sedihnya.
"Ibu!" sapa Raina dengan wajah ceria.
Ibunya menoleh dari ranjang, wajahnya pucat, tapi senyumnya tetap hangat. "Kok siang begini datangnya? Tidak kerja, Nak?" tanya ibunya lembut.
Raina duduk di samping ranjang, menggenggam tangan ibunya yang dingin. "Tadi ada urusan kantor. Sekalian makan di luar," jawabnya ringan. Urusan kantor. Definisi paling sopan dari kata dipecat.
Ibunya menatap wajah Raina lekat-lekat. Seolah membaca sesuatu. Raina langsung mengalihkan pandangan, sibuk membetulkan selimut. "Ibu jangan banyak mikir. Dokter bilang kondisi ibu stabil, kan?" katanya cepat.
Ibunya mengangguk pelan. "Kamu capek, Nak?"
"Tidak," jawab Raina refleks. Terlalu cepat malah. Saking takutnya ketahuan berbohong.
Ibunya tersenyum kecil. "Kalau capek, bilang. Jangan dipendam."
"Aku ingin bilang, Bu. Tapi kalau aku jatuh, siapa yang berdiri untuk menopang hidup kita?" batinnya.
Raina mengobrol ringan sampai ibunya terlelap. Setelah itu dia keluar dari bangsal. Seketika senyumnya langsung hilang. Dia berjalan ke lorong, mencari udara. Dadanya terasa sesam. Matanya panas hendak mengeluarkan air mata.