Mantan, Masa Gitu?

Niexora Grey
Chapter #3

Dikerjain sama Arga

"Ya Allah, kalau tidak bisa balik kaya seperti dulu lagi. Setidaknya, beri jalan agar aku bisa bekerja untuk biaya hidup dan berobat ibu. Aku butuh uang ya Allah, tabungan kami menipis. Ibu harus cuci darah setiap minggu."


Raina menunduk sambil berdo'a, air matanya jatuh membasahi telapak tangannya sendiri. "Mudahkan ya Allah. Aamiin."


Selesai shalat dan berdo'a cukup lama, Raina melipat mukenanya. Kemarin ibunya sudah dibawa pulang ke rumah kecil mereka. Itu artinya, ibunya akan tahu jika Raina tidak bekerja.


Begitu kakinya ingin melangkah ke kamar sang ibu, ponselnya berdering. Bunyi notifikasi singkat. Sebuah e-mail masuk. Raina membukanya. Ternyata panggilan interview dari Ardipa Publisher.


Seketika Raina tersenyum lebar. "Alhamdulillah! Ini langkah awal yang baik, daripada tidak ada panggilan sama sekali. Semoga aku lolos interview besok!"


***


Pagi harinya di kota Jakarta yang cukup padat. Dia berdiri di depan cermin kamar kos, menatap pantulan dirinya sendiri.


"Ayo, Raina. Jangan lebay. Ini cuma interview," gumamnya.


Cuma interview. Kalimat bohong terbaik pagi itu. Raina pun langsung berangkat, harus tepat waktu.


Ardipa Publisher bukan gedung besar, tapi sudah terlihat sangat modern dan rapi. Kaca depannya bersih, logonya minimalis. Raina menelan ludah begitu membaca nama itu. Penerbit baru. Kesempatan besar untuk diterima, dengan segala pengalamannya.


Dia baru melangkah ke trotoar depan gedung ketika sebuah suara yang sangat tidak ingin dia dengar terdengar dari samping.


"Masih hidup, ya?"


Raina memejamkan mata, berusaha untuk tidak meledak. Lalu berbalik. Arga berdiri di sana dengan stelan jas berwarna gelap dan rambut yang rapi. Wajah menyebalkan yang terlihat terlalu segar untuk seseorang yang hobi bikin hidup orang lain berantakan.


"Kamu ngapain di sini?" tanya Raina tajam.


Arga mengedikkan bahu. "Kerja. Kamu?"


"Interview."


"Wah." Arga menyeringai. "Hebat. Masih berani ngelamar kerja setelah marah-marah di pinggir jalan."


"Itu kamu yang hampir nabrak saya!"


"Masih hampir, kan? Belum juga ketabrak." Arga mendekat setengah langkah. "Kalau sampai, mungkin kamu sudah viral."


Raina mendengus. "Dasar tidak punya empati."


"Empati saya sedang cuti," balas Arga santai. Raina memalingkan wajah. "Saya tidak ada waktu debat sama kamu."


"Kebetulan. Saya juga tidak ada waktu buat orang yang ngomel sambil mau nyebrang tapi tidak lihat kanan kiri."


Raina menoleh cepat. "Kamu nyebelin sekali sih."


"Terima kasih. Sudah sering dengar." Mereka saling menatap beberapa detik. Campur aduk dengan sesuatu yang Raina benci akui. Kenangan manis masa lalu.


"Ya sudah," ucap Raina sok santai. "Permisi." Dia melangkah masuk gedung tanpa menoleh lagi. Tidak tahu—dan tidak ingin tahu—Arga tersenyum tipis di belakangnya.


Ruang tunggu Ardipa Publisher. Terlalu tenang untuk jantung Raina yang berdetak cepat. Dia duduk sambil menggenggam map cokelat berisi CV dan portofolio. Nama Raina Prameswari akhirnya dipanggil. Dia berdiri, menarik napas, lalu masuk ke ruang interview.


Dan dunia seakan berhenti. Arga duduk di balik meja. Sendirian dan begitu santai. Dengan ekspresi sok profesional yang sukses bikin Raina ingin berbalik keluar. "Kamu?" Raina refleks bersuara.


Arga melirik jam tangannya. "Tepat waktu. Duduk."


"Ini ... interview?" Raina masih syok.


"Tentu." Arga bersandar. "Kenapa? Kamu mengira saya figuran?"


Raina duduk dengan tubuh kaku. Otaknya sibuk memaki dirinya sendiri. "Kenapa aku tidak cek struktur perusahaan dulu?" batinnya.


"Baik," lanjut Arga. "Kita mulai."


Raina berusaha tenang. "Maaf soal kejadian kemarin. Saya memang sedang banyak masalah."


"Oh." Arga mengangguk lambat. "Jadi kamu memang suka melampiaskan emosi ke orang asing?"


"Itu tidak sengaja."


"Menarik." Arga menatapnya tajam. "Kalau ke orang yang tidak asing?"


Raina terdiam. "Itu dulu," jawabnya singkat. Arga tersenyum kecil. "Jawaban defensif. Catat."


Raina menghela napas. "Saya benar-benar butuh pekerjaan ini."


"Kenapa?" Arga melipat kedua tangan ke dada. Gaya tengil yang sesungguhnya membuat Raina kesal.


Raina menarik napas dalam-dalam "Karena saya editor profesional."


Arga mengangkat kedua alisnya sambil mencondongkan badan, sok serius. "Dan?"


"Dan saya bisa bekerja dengan baik."


Arga menyilangkan tangannya lagi. "Saya dengar kamu bikin kesalahan fatal di kantor lama."


Lihat selengkapnya