"Dan satu lagi," lanjut Arga sambil menunjuk bagian bawah kontrak. "Karyawan wajib menyelesaikan masa kontrak. Tidak boleh kabur. Apa lagi sampai menghilang."
"Itu ancaman?" tanya Raina.
"Itu hanya pengingat."
Raina menatap lembaran itu. Lalu mengangkat wajah. "Kalau saya melanggar gimana?"
Arga menjawab tanpa ragu, "Konsekuensi hukum."
Raina menelan ludah dengan susah payah, lalu mengangguk pelan. Kepalanya berdenyut, padahal belum mulai kerja. "Ada satu pertanyaan," katanya.
"Apa?"
"Kenapa kamu tetap nerima saya?"
Arga menatapnya. Tidak bercanda. "Karena kamu pintar," jawabnya. "Dan karena kamu lari delapan tahun lalu tanpa memberi saya hak untuk bicara." Tentu dia hanya membatin.
Raina menutup mata sebentar. "Ini balas dendam," katanya pelan.
Arga tidak menyangkal. "Saya mendengar itu."
Raina menghela napas panjang. Mengingat ibunya. Mesin cuci darah. Tagihan. Rumah kecil mereka. Dia mengambil pulpen. "Satu tahun," katanya sambil menandatangani. "Hanya satu tahun."
Arga mengamati gerakan tangannya dengan tenang. Fokus. "Mulai hari ini," ucap Arga setelah kontrak itu ditutup, "kamu karyawan Ardipa Publisher."
***
Hari Pertama yang tidak ada kesan ramah sedikitpun. Raina duduk di depan komputer dengan punggung tegak. Layar masih kosong. Tangannya sudah siap di atas keyboard, tapi pikirannya belum sepenuhnya tenang.
"Fokus. Ini kerja. Bukan urusan lama."
Belum genap satu jam, telepon meja berdering.
Raina langsung mengangkatnya. "Halo?"
"Buatkan saya kopi."
Raina menoleh ke jam. "Serius?"
"Oke," jawabnya singkat.
Dia berdiri, menuju pantry. Tangannya cekatan, meski dadanya mulai panas. Dia menuang kopi instan, air panas, sedikit gula. Mengaduk. Membawa ke ruang Arga.
Arga mencicipi. Alisnya terangkat sedikit. "Apaan ini! Terlalu pahit. Buat ulang!"
Raina menahan napas. "Baik."
Kembali ke pantry. Kali ini lebih banyak gula. Dia hitung cepat. Satu. Dua. Tiga sendok.
Diserahkan lagi.
Arga menggeleng. "Kemanisan."
Raina mengepalkan tangan di balik punggung. "Baik."
Percobaan ketiga. Keempat. Kelima. Raina sampai mondar-mandir karena sebuah kopi saja.
"Ini kopinya, Pak."
Arga mencicipi sedikit. "Masih kemanisan!"
Raina mendengus kesal. "Arga, please. Kemarin saya lihat kamu minum kopi seperti ini. Perasaan juga sukanya yang begini dari dulu," sahutnya Raina tanpa sadar, suaranya naik. "Kenapa saya salah terus?"