Raina berlari. Bukan lari manja, apa lagi lari estetik. Ini lari sungguhan dengan napas ngos-ngosan dan tas hampir terlepas dari bahu.
"Sedikit lagi … sedikit lagi .…"
Begitu sampai di depan pintu gedung Ardipa Publisher, dia langsung menegakkan badan. Mengatur napas. Merapikan kerudung. Menarik tas ke posisi semula. Lalu dia membeku.
Arga berdiri tepat di depan pintu masuk. Jas rapi. Rambut klimis. Kedua tangannya menyilang di dada. Wajahnya datar, tapi sorot matanya jelas tidak ramah.
Raina melirik jam dinding di lobi. Tepat waktu. Syukurlah.
"Selamat pagi, Pak," ucapnya cepat, dengan napas terengah.
Arga tidak langsung menjawab. Dia menurunkan pandangan ke jam tangan di pergelangan tangannya. Jam mahal yang jelas tidak dibuat untuk menoleransi keterlambatan.
"Kamu telat," katanya tenang.
Raina mendelik. "Tidak, Pak. Jam masuk masih—"
"Satu menit," potong Arga sambil mengangkat pergelangan tangannya. "Jam saya menunjukkan kamu telat satu menit."
Raina menepuk jidatnya sendiri. Pelan, tapi penuh keputusasaan. "Baiklah, baiklah. Tidak akan saya ulangi, Pak."
Arga tersenyum tipis. Senyum yang terlalu tenang untuk disebut baik. Entah ada niat apa lagi di dalam kepalanya.
"Bagus," ujarnya. "Karena hari ini kamu bantu saya di ruangan. Lain kali, kamu akan saya hukum."
Raina menelan ludah. "Iya, Pak. Saya mengerti."
Dia mengikuti Arga masuk ke ruang kerja yang kemarin membuatnya hampir pingsan karena fakta pahit. Ruangan itu tetap sama. Serba aura balas dendam yang begitu terasa.
Arga duduk santai di kursinya. Raina berdiri canggung di depan meja.
"Tolong rapikan berkas-berkas itu," kata Arga sambil menunjuk tumpukan map.
Raina langsung bergerak. Dia membuka map pertama. Isinya kontrak lama. Dia menyusun ulang. Map kedua, ketiga.
"Yang itu salah urutan," ujar Arga tanpa menoleh.
Raina berhenti. "Tapi ini sudah sesuai tanggal, Pak."
"Di ruangan saya, urutannya sesuai selera saya."
Raina menarik napas. "Sabar. Ini kerja." Dia ulangi lagi.
Baru setengah jalan—Arga memanggilnya, "Rai."
Raina langsung mendongak. "Iya, Pak?"
"Kopi."
Raina berbalik cepat. "Baik."
Dia keluar, membuat kopi dengan takaran yang sudah dihafalnya mati-matian sejak kemarin. Begitu kembali, ada saja protesnya.
"Kurang panas."
Raina keluar lagi. Kembali lagi.
"Saya tidak mau yang hitam."
Raina ingin teriak. Tapi tetap bertahan. Keluar lagi. Dan balik lagi.
"Kepahitan."
Raina menggenggam cangkir lebih erat. Napasnya mulai berat. Saat dia hampir menggerutu, Arga sangat pintar menguasai keadaan.
"Pak Arga—"
"Pak," potong Arga dingin.
Raina membeku. "Maksud saya … Pak. Hehe ...."
Arga menatapnya lama. Lalu menggeser cangkir itu sedikit. "Ulangi. Saya tidak mau seperti yang kemarin "
Percobaan kelima akhirnya berhasil.
"Ini," kata Arga singkat.
Raina hampir jatuh terduduk di kursi. Tapi belum sempat duduk sukurnya.