Mantan, Masa Gitu?

Niexora Grey
Chapter #6

Donor ginjal

Beberapa minggu berlalu tanpa ampun. Raina bekerja seperti mesin yang dipaksa hidup dengan emosi manusia. Datang tepat waktu. Pulang nyaris selalu terakhir. Salah sedikit, ditegur. Benar pun, tetap dicari celah kesalahannya.


Dia tetap patuh dan diam. Menelan semua dengan rapi. Raina yakin seratus persen. Arga benar-benar balas dendam.


Siang ini, jam istirahat baru berjalan sepuluh menit. Raina duduk di kursinya, menatap layar tanpa fokus. Angka-angka berloncatan. Huruf-huruf itu terlihat kabur. Dadanya sesak.


Ponselnya bergetar pelan di dalam tas. Getaran yang tidak seharusnya dia abaikan. Raina melirik sekitar. Ruangan relatif sepi. Arga masih di ruangannya. Dia berdiri. Melangkah pelan. Mengetuk pintu.


"Masuk."


Raina langsung masuk, berdiri di hadapan Arga. "Pak, saya mau izin keluar sebentar."


Arga mengangkat wajah dari layar laptop. Alisnya terangkat tipis. "Ke mana?"


"Keluar sebentar saja, Pak. Mumpung masih jam istirahat."


Arga menutup laptopnya perlahan, lalu berdiri. "Kamu tahu aturannya seperti apa, kan?" dia bicara sambil melangkah pelan, mendekati sang mantan.


Raina menelan ludah. "Saya tahu."


"Dan kamu tahu posisi kamu." Arga menyilangkan tangan di dada. "Kamu harus standby."


Raina mengepalkan jari di sisi rok. Napasnya ditahan. "Ini penting, Pak."


"Seberapa penting?"


Raina terdiam satu detik. Detik yang membuat Arga menyipitkan mata. "Urusan pribadi," lanjut Raina cepat. "Sangat mendesak."


"Kamu sakit?"


Dia menggeleng cepat. "Tidak."


Arga menyipitkan matanya. "Masalah kantor?"


Dengan cepat Raina mengibaskan tangannya. "Bukan."


Arga langsung sinis. "Berarti tidak relevan."


"Pak," suara Raina menurun. Dadanya terasa semakin sesak, menyadari keegoisan sang bos. "Saya tidak minta lama. Lima belas menit."


Arga menatapnya lama. Kali ini terlalu lama. Seolah menimbang bukan alasan, tapi wajahnya. Posturnya. Kegelisahan yang terlihat jelas di setiap gerak tubuh wanita itu.


"Kamu tidak jujur," ucap Arga akhirnya.


Raina menegang. "Saya tidak berbohong."


"Kamu menyembunyikan sesuatu."


"Itu hak saya."


Arga mendekat satu langkah. "Di kontrak kamu, tidak ada klausul soal menyembunyikan urusan pribadi yang mengganggu pekerjaan."


Raina mengangkat wajah. Napasnya tercekat. "Saya tidak akan mengganggu pekerjaan," katanya sungguh-sungguh.


"Kamu sudah terganggu." Arga mundur, hendak kembali ke tempatnya.


Kalimat itu membuat Raina hampir tertawa. Hampir saja. Tapi yang keluar hanya hembusan napas panjang. "Pak," katanya lagi. Lebih pelan dan jujur dalam ketidakjujuran.


"Kalau saya tidak keluar sekarang, saya bisa kehilangan sesuatu yang penting."


Arga langsung terdiam. Lama dia terdiam, sampai akhirnya kembali duduk. Kembali menatap kegelisahan wanita di hadapannya. "Sepuluh menit."

Lihat selengkapnya