Hari-hari Raina berubah menjadi satu kata: bertahan.
Setiap pagi dia datang tepat waktu. Setiap siang dia duduk di depan layar, menyunting naskah demi naskah tanpa banyak bicara. Dan setiap sore, Arga selalu menemukan cara baru untuk mengujinya—entah dengan revisi mendadak, tenggat yang dipercepat, atau koreksi yang membuat matanya perih.
Hari ini lebih parah. Buku-buku harus terbit. Deadline menumpuk. Raina sebagai editor tidak boleh lengah sedikit pun. Salah satu typo bisa berujung cetak ulang. Kerugian besar. Dan itu berarti, dia harus lebih teliti dari biasanya.
Matanya sudah panas. Batang hidung sudah nyeri akibat kacamata yang tidak terlepas sejak pagi. Bahunya pegal. Tapi tangannya terus bergerak dengan lihai.
Waktu magrib tiba, kantor mulai sepi. Raina berdiri dari kursinya, mengambil air wudu di pantry kecil, lalu shalat di sudut ruangan kosong. Sujudnya yang lama, berdoa dengan khusyuk.
Selesai, dia kembali ke mejanya.
Jam delapan malam, akhirnya Arga keluar dari ruangannya. Tatapan mereka bertemu sebentar. "Kamu bisa pulang," ucap Arga singkat.
Raina mengangguk. "Terima kasih, Pak."
Dia merapikan meja, memasukkan laptop ke tas, lalu keluar gedung dengan langkah letih.
Di luar, udara Jakarta terasa pengap. Lampu-lampu kota menyala terang, tapi tidak memberinya rasa aman. Raina mengeluarkan ponselnya. Menghubungi satu-satunya orang yang masih tersisa dari keluarga ayahnya—adik tiri almarhum sang ayah.
Panggilan diangkat setelah dering ketiga.
"Apa?"
"Om di mana?" tanya Raina pelan.
"Bar," jawab suara laki-laki itu malas. "Kenapa?"
Raina menelan ludah. "Aku mau ketemu."
"Ngapain malam-malam?"
"Urusan penting."
"Ya sudah. Datang saja."
Raina menutup telepon. Dadanya berdebar. Tapi dia tetap melangkah. Dia tahu pria itu suka bermain di tempat yang berbahaya. Baginya, dunia hanya tempat untuk bersenang-senang.
Sampai di Bar, Raina langsung bergerak masuk. Bar itu sangat ramai. Bau alkohol bercampur asap rokok. Musik keras. Lampu temaram. Raina merasa asing di tempat itu. Tapi dia tetap memaksakan diri untuk masuk. Mencari posisi pria itu.
Omnya duduk di sudut, dikelilingi botol-botol kosong. Raina langsung berusaha menyalip orang-orang yang tengah bergerak liar tanpa arah. Risih, tentu saja. Dia pun terpaka mendorong beberapa orang untuk memberinya ruang untuk berjalan.
Di depan meja bundar itu, Raina langsung mendekat ke arah om-nya. "Om!"
Pria itu menoleh, walau tangannya masih setia memeluk pinggang seorang wanita. "Berani juga kamu datang ke sini."
Raina mendengus. "Om, aku tidak mau basa-basi."
"Hem. Katakan, mau apa?" tanyanya dengan tatapan mengejek.
Raina menghela napas berat. "Saya butuh uang. Buat operasi ibu."
Pria itu terkekeh kecil. "Kamu masih berharap?"
"Itu perusahaan ayah saya," suara Raina bergetar. "Setidaknya sedikit. Saya cuma minta pinjaman."
"Perusahaan itu sudah bukan urusanmu lagi."
Raina mengepalkan tangannya. "Om—"
"Lagipula," omnya menyela sambil menyesap minuman, "dengan muka dan badanmu, cari uang itu cukup gampang."