Raina terbangun dengan kepala berat dan mata sembab. Bekas tangisan semalam masih terasa di kelopak matanya. Dadanya sesak, seperti ada sesuatu yang tertinggal di malam tadiābau alkohol, suara tawa kasar, tangan yang hampir menyentuh, dan wajah Arga yang muncul di saat paling tidak masuk akal. Tiba-tiba muncul selayaknya seorang pahlawan.
Dia duduk di tepi ranjang, menatap lantai kos yang dingin.
"Ayo, Rai. Bangun," gumamnya lirih.
Tidak ada pilihan lain. Bertahan bukan soal keberanian lagi, tapi keharusan menjadi kewajiban.
Raina bersiap seperti biasa. Jam menunjukkan pukul 06.15 ketika dia keluar kos.
Jakarta sudah sangat ramai, dan Raina harus ikut bergerak di dalamnya.
Di depan gedung Ardipa Publisher, Raina menarik napas panjang sebelum masuk. Dia sempat menoleh ke kanan dan kiri, refleks. Sisa trauma semalam belum sepenuhnya reda. Tapi dia menguatkan langkahnya.
Lift membawa Raina naik ke lantai kantor. Saat pintu terbuka, suasana sudah sibuk. Beberapa karyawan lalu-lalang, membawa map dan tablet. Raina langsung menuju mejanya.
Baru duduk, ponsel kantornya berdering.
"Raina," suara Arga terdengar datar.
"Ya, Pak.
"Masuk ke ruangan saya."
Raina menutup mata sejenak. Baru juga duduk. Dia berdiri lagi, merapikan kerudungnya, lalu melangkah menuju ruang direktur. Tapi tak ada daya. Mau marah pun percuma.
Ketukan pintu terdengar pelan.
"Masuk."
Arga duduk di balik meja. Kali ini tanpa jas. Lengan kemeja dilipat rapi di lengan. Wajahnya terlihat biasa saja. Seolah semalam tidak terjadi apa-apa.
Raina berdiri di depan meja. "Ada yang bisa saya bantu, Pak?"
Arga menatap layar laptopnya, tidak langsung menjawab. "Saya butuh kamu cek naskah ini. Prioritas."
Dia mendorong tablet ke arah Raina.
Raina melirik judulnya. Buku nonfiksi. Pasti tebal dan padat. "Deadline?"
"Hari ini."
Raina mengangguk. "Baik."
Saat hendak berbalik, suara Arga menahannya. "Raina."
Raina berhenti.
"Kamu terlihat aneh. Are you okay, Rai?"
Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Tapi nada Arga tetap profesional. Datar, seperti tidak benar-benar memiliki niat untuk bertanya.
"Saya baik-baik saja, Pak."
Arga mengangguk singkat. "Kerjakan."
Tidak ada pertanyaan tentang semalam. Tidak ada komentar. Tidak ada empati berlebihan. Dan entah kenapa, itu justru lebih menenangkan bagi Raina.
Hari berjalan begitu lambat.
Raina tenggelam dalam halaman demi halaman. Menandai kalimat yang janggal. Membetulkan istilah. Memastikan data tidak salah. Fokusnya nyaris sempurna, seolah dia sedang bersembunyi di balik pekerjaan.
Setiap kali pikirannya melayang ke rumah sakit, ke wajah ibunya yang pucat, atau ke ucapan omnya yang kejam, Raina memaksa dirinya kembali ke layar.
Bertahan. Bertahan. Bertahan.
Menjelang siang, Arga kembali memanggil.
"Kopi."
Raina berdiri. Menuju pantry. Kali ini dia tidak salah. Takaran gula tepat. Kopi hitam tanpa rasa aneh.
Saat dia meletakkan cangkir di meja Arga, pria itu menatap sekilas. Lalu mengangguk.
"Bagus."
Satu kata. Tapi cukup membuat Raina menghembuskan napas lega.
Siang berlalu tanpa istirahat. Bagaimana tidak? Selain mengejar deadline, Arga terus menghubunginya untuk melakukan ini dan itu. Sama seperti hari kemarin. Walau gaya bicaranya sedikit berbeda.
Perut Raina mulai terasa perih. Tapi dia mengabaikannya. Hingga Arga berdiri dari kursinya. Memperhatikan keseriusan Raina. "Makan, nanti lanjutkan lagi."
Raina terkejut. "Maaf?"