Udara dingin menusuk kulit saat dia berdiri di depan gerbang rumah omnya. Rumah yang besar. Lampu teras menyala terang, kontras dengan tubuh Raina yang sederhana.
Dia menelan ludah, lalu menekan bel. Cukup lama pintu terbuka, dan memperlihatkan omnya. Pria serakah yang merebut segalanya milik Raina.
"Kamu lagi?"
Raina menunduk sopan. "Maaf mengganggu malam-malam, Om."
"Kemarin habis nangis di bar, sekarang nangis di rumah saya?" Omnya menyeringai kecil. "Drama kamu cukup lengkap, Rai."
Raina memejamkan mata sesaat. Menahan diri. Dia tidak datang untuk membalas ucapan Omnya. Dia datang untuk satu tujuan.
"Ibu harus hemodialisis darurat malam ini," ucapnya pelan. "Biayanya besar. Saya tidak punya cukup uang."
Omnya menghela napas berlebihan. "Terus?"
"Saya minta bantuan." Raina menghela napas pelan. "Sedikit saja, Om. Nanti saya ganti. Saya janji."
Omnya tertawa—tawa merendahkan. Tentu saja, mana mungkin dia tidak melakukan itu.
"Kamu pikir uang saya tumbuh di pot bunga?" Dia bersandar di kusen pintu. "Masalah hidup kamu bukan urusan saya."
"Itu juga istri ayah saya," balas Raina lirih.
"Dan ayahmu sudah mati," potong omnya dingin. "Berhenti bawa-bawa nama orang mati buat minta uang."
Raina terdiam. Dadanya terasa nyeri. Dia menunduk. Bahunya menegang, tapi dia tidak menangis.
"Kalau memang kepepet, kamu bisa cari cara cepat. Kamu tahu maksud saya." Omnya menyeringai sinis.
Raina menggigit bibirnya, tangannya mengepal kuat. Dia menahan diri agar tidak menampar mulut laki-laki itu.
"Saya cuma minta bantuan, setidaknya saya akan ganti," ucapnya lagi. Suaranya hampir habis. "Kalau Om tidak mau, bilang saja. Saya akan pergi."
Omnya menatapnya lama. Lalu masuk ke dalam rumah. Raina berdiri kaku di teras, menunggu tanpa harap. Beberapa detik kemudian, pria itu kembali dengan segepok uang di tangannya.
"Ini." Dia melempar uang itu tepat ke wajah Raina.
Uang kertas berhamburan, sebagian jatuh ke atas lantai. Raina tersentak—wajahnya memanas. Tapi dia tidak bersuara, apalagi langsung marah. Tidak membela diri. Dia hanya berdiri, lalu perlahan berjongkok.
Tangannya gemetar saat memungut lembar demi lembar uang dari lantai.
Omnya tertawa kecil. "Ambil yang benar. Jangan sampai kurang. Nanti kamu balik lagi, bikin pusing."
Raina memungut uang terakhir. Kepalanya tertunduk. Air mata jatuh, menetes ke punggung tangannya. Tidak ada isakan tangis, apalagi suara. Hanya bahu yang bergetar tipis.