Layar ponsel itu gelap, sedingin telapak tangan Erika Walters yang mulai gemetar. Angka digital di sudut atas menunjukkan pukul dua dini hari.
Mata Erika beralih pada ranjang king-size di tengah kamar tidur utama kediaman Hart. Mewah, dikelilingi furnitur berlapis emas, namun terasa seperti peti mati yang membekukan warasnya. Tempat ini tidak pernah terasa seperti rumah—persis seperti pernikahan tiga tahunnya dengan Adrian Hart.
Erika mengembuskan napas berat, mencoba mendial nomor itu untuk kesekian kalinya.
“Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan...”
Erika tertawa getir. Bukan hal aneh. Sejak mereka menikah, nomor Adrian selalu mati setiap kali ia telepon. Seolah-olah pria itu sengaja memasukkan nomor istrinya sendiri ke dalam daftar hitam abadi.
"Kamu di mana, Adrian...?" gumamnya lirih pada kesunyian.
Ia ingin bertanya pada mertuanya, namun Erika tahu diri. Bertanya tentang keberadaan Adrian kepada keluarga Hart sama saja dengan mengemis caci maki. Bagi mereka, Erika tak lebih dari hama yang menyusup ke silsilah keluarga mereka yang terhormat.
Ibu jari Erika kembali melayang di atas layar, hendak menekan tombol panggil ulang, ketika telinganya menangkap suara langkah kaki terseret dari lorong luar. Langkah itu berat, tidak beraturan.
Dan tidak sendirian. Ada dua pasang sepatu yang mendekat.
Cklek.
Pintu kamar itu tidak sekadar dibuka, melainkan dihantam kasar hingga hampir mengenai wajah Erika jika ia tidak cepat-cepat melangkah mundur. Detik berikutnya, gelombang aroma alkohol yang pekat, asap rokok, dan parfum wanita yang menyengat langsung merusak udara kamar.
Di ambang pintu, berdirilah Adrian Hart, suaminya. Tubuh tingginya bersandar sepenuhnya pada seorang wanita bergaun merah ketat yang memeluk pinggangnya dengan posesif.
Felicia Evans.
Jantung Erika rasanya seperti dihantam godam lalu jatuh berserakan di lantai. Tangan Adrian menggelayut manja di bahu Felicia, sementara jemari wanita itu dengan berani meraba dada Adrian yang kancing kemeja atasnya sudah terbuka.
"Dari mana saja kamu, Adrian?" Erika berusaha menahan suaranya agar tidak bergetar, mencoba mengabaikan eksistensi Felicia yang kini menatapnya penuh kemenangan.
Felicia tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menyeringai tinggi, tatapannya sarat akan penghinaan. Sementara Adrian? Jangankan menjawab, melirik Erika pun tidak. Pria itu melangkah sempoyongan, menyeret Felicia masuk ke dalam kamar. Keduanya mabuk berat.
"Aku meneleponmu semalaman!" Erika meninggikan suara, rasa sakit di dadanya mulai meluap menjadi kemarahan. "Nomormu dialihkan secara otomatis. Kamu tahu seberapa cemasnya aku—"
"Siapa kamu berani menginterogasiku?!" Adrian memotong tajam. Suaranya serak dan berat karena alkohol. Ia menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang, bersandar malas dengan mata setengah terpejam. Di dadanya yang terekspos, jejak lipstik merah menyala tercetak jelas.
Erika mengepalkan tinjunya hingga kuku-kukunya memutih. "Aku istrimu, Adrian!"
Adrian terkekeh sinis, sebuah tawa yang terdengar sangat menjijikkan di telinga Erika. Matanya yang merah karena mabuk melirik ke arah laci nakas di samping tempat tidur.