Mantan Suami Ingin Rujuk Setelah 3 Tahun Bercerai

Best Siallagan
Chapter #5

Kartu Hitam

Erika melangkah masuk ke dalam kabin mobil sport milik Monica, lalu mengembuskan napas panjang. Ia menatap selembar akta cerai di tangannya, lalu tersenyum getir. Tiga tahun. Tiga tahun pernikahan yang ia pertahankan dengan seluruh jiwa dan raganya, kini menguap begitu saja dalam hitungan menit.

Monica yang duduk di kursi kemudi meliriknya, lalu mendengus geli. "Kalau kamu sudah selesai bernostalgia mengingat masa-masa 'indah' dengan mantan suamimu, bisa kita jalan sekarang, Nyonya Janda?"

Erika mendengus, memasukkan surat itu ke dalam tas. "Kamu yang pegang setir, Monica. Aku tidak sedang memegangi tangan atau kakimu. Jalan saja."

Monica langsung menginjak pedal gas. Mesin menderu, membelah jalanan California yang kebetulan sedang lengang siang itu. Kendaraan melaju mulus tanpa hambatan.

"Karena sekarang kamu sudah resmi lajang, mau merayakannya ke mal?" tanya Monica, melirik sahabatnya. Ia tahu betul melepaskan Adrian bukanlah keputusan mudah bagi Erika. Ia hanya mencoba mengalihkan pikiran sahabatnya agar tidak larut dalam kesedihan.

Erika menoleh, matanya memancarkan binar yang berbeda. "Tentu, tidak masalah. Sudah lama sekali aku tidak menginjakkan kaki ke mal. Lagipula, aku butuh baju-baju baru."

Monica mengangguk puas. Ia memutar kemudi, mengambil rute memotong menuju pusat kota.

Dalam waktu dua puluh menit, mereka tiba di City Mall California. Kecepatan mobil Monica membuat mereka sampai lebih cepat dari perkiraan. City Mall merupakan pusat perbelanjaan termegah dan terbesar di wilayah tersebut, yang tidak lain adalah milik orang tua Monica sendiri, Tuan dan Nyonya Smith.

Begitu masuk, Monica langsung menarik Erika menuju area pakaian wanita premium. Sebagai seorang model sekaligus penata gaya profesional, Monica jelas memahami dunia fesyen jauh lebih baik daripada Erika. Ia dengan cerewet memilihkan tumpukan gaun desainer ternama dan memaksa Erika untuk mencobanya satu per satu. Di tengah kegiatan itu, Monica pamit ke toilet sebentar, membiarkan Erika melanjutkan memilih pakaian sendiri.

Saat Erika sedang memilah sebuah gaun sutra, sebuah suara melengking yang sangat akrab merusak ketenangannya.

"Sedang apa wanita udik sepertimu di tempat seperti ini?"

Erika berbalik perlahan. Di hadapannya, Mary dan Juliet sedang berdiri bersedekap dada, menatapnya dengan pandangan sarat akan kejijikan. Erika hanya menatap datar, menunjukkan raut wajah yang sengaja dibuat bingung.

"Kamu tidak punya telinga? Aku tanya, apa yang dilakukan jalang miskin sepertimu di toko desainer ini?" sembur Mary lagi, meninggikan dagu.

Erika tidak terpancing. Sebuah senyuman tipis, bahkan cenderung meremehkan, terukir di bibirnya. "Apakah ada papan pengumuman di depan pintu yang menuliskan bahwa aku dilarang masuk ke sini?"

Lihat selengkapnya