Ethan segera melangkah menuju mobilnya yang terparkir di luar restoran mewah tersebut. Begitu pintu tertutup, ia langsung memerintahkan sang sopir untuk memacu kendaraan menuju kediaman utama keluarga Anderson. Ia harus segera menyelesaikan urusan ini dan menegaskan posisinya kepada sang ayah secara langsung.
Perjalanan memakan waktu sekitar satu jam hingga mobil mewah itu akhirnya berhenti sempurna di halaman depan mansion. Tanpa membuang waktu, Ethan langsung turun dan melangkah lebar melewati pintu masuk utama. Namun, netranya tidak menangkap keberadaan sang ayah di ruang keluarga.
Ia kemudian berpapasan dengan kepala pelayan setia mereka yang sudah berumur, Benjamin. Ketika ditanya, Benjamin memberi tahu bahwa sang tuan besar sedang berada di taman belakang. Ethan pun segera menyusul ke sana dan mendapati ayahnya, John Anderson, sedang duduk santai sembari menikmati keindahan lanskap taman yang tertata rapi.
"Selamat sore, Ayah," sapa Ethan. Meskipun ia sedang dirundung kekesalan akibat ulah ayahnya, ia tetap menjaga sopan santun dan rasa hormat yang sepantasnya.
John langsung menoleh dan memberondong putrunya dengan rentetan pertanyaan tanpa jeda, "Ethan, bagaimana makan siangmu dengan Jasmine? Apakah kalian berdua akhirnya membicarakan perihal rencana pernikahan?"
"Ayah, aku sudah mengatakannya berulang kali. Aku tidak akan pernah menikahi Jasmine," jawab Ethan dengan nada suara yang mulai terdengar dongkol.
Wajah John seketika berubah tegang. "Dasar anak nakal! Apa maksudmu dengan tidak akan pernah menikahi Jasmine? Ethan, usiamu sudah hampir menginjak 30 tahun dan selama ini Ayah belum pernah melihatmu dekat dengan wanita mana pun selain Jasmine!" ujar John penuh kebingungan sekaligus frustrasi.
Sejak Ethan masih kanak-kanak, pria itu memang memiliki kepribadian yang tertutup dan enggan bersosialisasi secara acak, baik dengan sesama pria maupun lawan jenis. Jumlah teman dekat yang dimilikinya bahkan bisa dihitung dengan jari di satu tangan.
John mengembuskan napas berat. "Ethan, tolong mengertilah. Ayah ini sudah semakin berumur dan Ayah sangat mendambakan kehadiran seorang cucu yang berlarian meramaikan mansion ini. Apa kamu tidak bisa memahami keinginan orang tuamu?"
Ethan menatap ayahnya dengan ekspresi yang sulit diartikan sebelum akhirnya melayangkan sebuah pengakuan tak terduga. "Ayah, sejujurnya... saat ini aku sedang berusaha mendekati seorang wanita. Hanya saja, dia belum memberikan jawaban atau menerima perasaanku. Jadi, aku minta Ayah untuk sedikit lebih bersabar. Begitu dia menerimaku dan kami menikah, Ayah boleh mendapatkan cucu sebanyak yang Ayah inginkan."