Mantan Suami Ingin Rujuk Setelah 3 Tahun Bercerai

Best Siallagan
Chapter #20

Tutup Mulutmu

Cengkeraman tangan Adrian pada tepian tablet begitu kencang hingga plastik pelindungnya berderit. Di seberang meja, Adam Hart memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut kasar.

"Kau tahu kekacauan besar apa yang menimpa kita sekarang akibat rekaman menjijikkan ini?" Suara Adam terdengar rendah, namun sarat akan ancaman. "Benda ini sudah menyebar ke setiap sudut media sosial."

Adrian tidak menyahut. Layar di tangannya masih menampilkan kolom komentar yang bergerak naik dengan kecepatan gila. Ribuan ketikan warganet membanjiri laman tersebut, merobek reputasi yang selama bertahun-tahun ia bangun bersama keluarga Hart.

Dalam hukum rimba opini publik, narasi selalu lebih kejam pada pihak ketiga. Adrian menyadari sebagian besar cercaan dan kata-kata kotor di layar tertuju langsung pada Felicia. Dengan rahang yang mengencang, ia meletakkan tablet itu ke meja marmer, bergumam pamit tanpa menunggu izin ayahnya, lalu melangkah lebar menuju mobilnya. Ia butuh jawaban langsung dari kamar mansion barunya.

Begitu Adrian mendorong pintu kamar utama mereka, pemandangan di dalam jauh lebih hancur daripada ruang kerja ayahnya.

Lampu tidur berbahan keramik baru saja menghantam cermin besar di dinding, menyisakan pecahan kaca yang berserakan di atas karpet bulu. Felicia berdiri di tengah kekacauan itu, napasnya memburu, wajahnya yang biasa tersenyum anggun di depan kamera kini tampak distorsi oleh amarah.

"BANGSAT KAU, ERIKA!!!" pekik Felicia, suaranya melengking memecah kesunyian kamar.

Adrian melangkah masuk, sepatunya menginjak serpihan kaca dengan bunyi gemertak yang tajam. Ia tidak memedulikan pecahan yang menggores solnya. Tangan Adrian bergerak cepat, mencengkeram kedua bahu Felicia dan mengguncangnya dengan kasar.

"Jadi kau yang mengirimkan video itu pada Erika?" Suara Adrian terdengar seperti desis ular, matanya merah menahan gejolak di dada.

Felicia tertegun, bibirnya bergetar tanpa kata. Kilasan memori dua tahun lalu berputar di kepalanya. Ya, dia yang merekamnya. Bukan hanya satu, tapi belasan pesan suara intim dan potret kedekatan mereka sengaja ia jejalkan ke nomor ponsel Erika. Tujuannya hanya satu: membuat wanita itu layu dalam rasa sakit dan memilih mundur. Namun, Felicia tidak pernah menyangka, keheningan Erika selama dua tahun ini adalah cara wanita itu mengumpulkan peluru.

Lihat selengkapnya