Erika menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan untuk mengusir riak cemas di dadanya. Tidak ada waktu untuk kembali ke kamar dan berganti pakaian. Ia menyambar tas tangannya dari atas meja rias, memoleskan sedikit gincu merah di bibirnya, lalu melangkah lebar keluar dari pintu utama mansion.
Di dekat gerbang, di samping sebuah mobil sport hitam yang berkilau di bawah lampu taman, Ethan berdiri menunggunya.
Pria itu mengenakan setelan tuksedo yang terpotong rapi, membungkus bahunya yang tegap dan postur tubuhnya yang tinggi. Petugas keamanan gerbang—yang sudah terbiasa melihat presensi Ethan beberapa minggu terakhir—hanya menunduk hormat tanpa bertanya.
Erika mendekat, tumit sepatu hak tingginya mengetuk marmer jalanan. Ketika ia berada hanya dua langkah di belakang Ethan, Erika menepuk pelan bahu pria itu.
Ethan memutar tubuhnya. Dan pada detik itu, pergerakannya terkunci seutuhnya.
Sorot mata Ethan yang biasanya tenang dan tajam seketika kehilangan fokus. Erika mengenakan gaun malam berwarna merah darah yang melekat pas di pinggangnya, dengan belahan tinggi di satu sisi yang memamerkan garis kakinya saat melangkah, serta potongan terbuka di bagian punggung. Penampilannya benar-benar berbeda dari gaya formal kaku yang biasa ia kenakan di kantor eksekutif.
Erika menahan senyum melihat pria di hadapannya terpaku tanpa suara. Ia mengibaskan jemarinya tepat di depan wajah Ethan untuk mengembalikan kesadaran pria itu.
Ethan mengedipkan matanya beberapa kali, berdeham pelan untuk menguasir canggung yang mendadak menyerang. "Kau... terlihat luar biasa. Apa kau berdandan seperti ini khusus untuk membuatku terkesan?" godanya, mencoba menutupi detak jantungnya yang mendadak berkejaran.
Erika menaikkan sebelah alisnya, melipat tangan di dada seraya menatap tuksedo mahal yang dikenakan Ethan dari ujung kepala hingga kaki. "Kau terlalu percaya diri, Tuan Anderson. Lalu bagaimana denganmu? Apa kau sedang berusaha memikatku juga malam ini?"
Ethan menyunggingkan senyum tipis. Ia memiringkan kepalanya, menyesuaikan letak kancing jasnya dengan gerakan santai yang anggun. "Bagaimana kalau jawabannya ya?"
Tawa kecil akhirnya lolos dari bibir Erika. "Pilihan pakaian yang bagus, Tuan Anderson. Sekarang, bisakah kita berangkat?"