Mata Erika tetap terpaku pada pria di hadapannya, bibirnya sedikit terbuka dalam keheningan yang panjang. Cinta pada pandangan pertama sejak bertahun-tahun lalu di supermarket? Pikiran logis Erika menolak memproses klaim yang terdengar seperti alur novel picisan tersebut.
Erika berdeham pelan, merapikan nada suaranya agar tetap tenang. "Ethan, aku menghargai perasaanmu padaku. Tapi... maaf, aku tidak bisa membalas rasa itu."
Ethan Anderson adalah definisi pria yang diimpikan banyak wanita. Lingkar pengaruhnya luas, wajahnya simetris dengan rahang tegas, dan pembawaannya tenang. Namun bagi Erika yang baru saja keluar dari neraka pernikahan bersama Adrian, ide untuk kembali mengikat diri dalam sebuah hubungan romantis terasa menakutkan. Rasa kagum pada penampilan Ethan tidak cukup kuat untuk meluruhkan benteng trauma di dadanya.
Di sisi lain, reaksi dingin itu tidak serta-merta meruntuhkan tekad Ethan. Ia menangkap riak ragu di mata Erika—sebuah petunjuk bahwa wanita itu tidak sepenuhnya menolak kehadirannya. Yang perlu ia lakukan hanyalah mengubah rasa nyaman menjadi rasa cinta.
"Ethan, kau baik-baik saja?" tanya Erika saat melihat tatapan pria itu mendadak kosong. "Aku sungguh minta maaf. Tapi kita tetap berteman baik, kan? Harapanku, ini tidak akan merusak hubungan kerja sama kita."
Ethan mengedipkan mata, menarik kembali kesadarannya dari susunan strategi di kepalanya. "Tentu saja tidak. Aku mengerti dari mana rasa takut itu berasal, Erika. Kau cemas aku akan berubah menjadi seperti Adrian. Tapi aku tidak akan pernah melakukan itu."
Ia memajukan tubuhnya, menatap lurus ke dalam sepasang mata Erika dengan intensitas yang tak tergoyahkan. "Aku berjanji padamu, aku akan melakukan apa saja untuk memenangkan hatimu. Perasaan ini tidak akan berubah."
Erika menggigit bibir bawahnya, hanya sanggup bergumam, "Terima kasih."
Atmosfer canggung perlahan mencair ketika hidangan mulai dinikmati. Ethan dengan sengaja menyelipkan gurauan-gurauan kecil yang terasa canggung untuk pria se-kaku dirinya, membuat tawa Erika beberapa kali pecah di tengah kegelapan malam. Makanan di atas meja habis tanpa sisa—sebagian besar berpindah ke piring Erika yang sangat menikmati cita rasa setiap hidangan.
"Apa kau sendiri yang memasak semua ini?" tanya Erika, menunjuk piring-piring yang kini bersih.
Ethan memajukan bibirnya berpura-pura merajuk. "Akhirnya kau menyadarinya juga."