KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas izin dan kehendak-Nya novel ini dapat terselesaikan.
Novel “Manusia Yang Hilang Arah” ditulis untuk manusia-manusia yang pernah merasa lelah menghadapi hidup. Untuk mereka yang terlihat tertawa di luar, tetapi diam-diam berperang dengan pikirannya sendiri setiap malam.
Cerita ini lahir dari banyak rasa yang sering kali sulit dijelaskan dengan kata-kata. Tentang kehilangan, luka, harapan, kesepian, dan perjalanan panjang seseorang dalam menemukan dirinya sendiri di tengah dunia yang perlahan membuat manusia lupa bagaimana caranya menjadi manusia.
Melalui novel ini, saya ingin menyampaikan bahwa tidak semua manusia yang diam berarti baik-baik saja. Ada hati yang terlihat kuat, tetapi sebenarnya sedang hancur perlahan. Ada seseorang yang tetap tersenyum, meski di dalam dirinya sedang kehilangan arah.
Semoga setiap kalimat dalam novel ini mampu menjadi teman bagi pembaca yang sedang merasa sendirian, dan menjadi pelukan kecil bagi jiwa yang sedang lelah menghadapi kehidupan.
Saya menyadari bahwa karya ini masih memiliki banyak kekurangan. Oleh karena itu, saya menerima segala kritik dan saran sebagai pembelajaran untuk menjadi lebih baik ke depannya.
Terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung dan kepada setiap hati yang bersedia membaca kisah ini.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Penulis
Karden Ahmadan Aulia Jauhar
Chapter 1
Kota yang Tidak Pernah Peduli
Malam turun perlahan di atas kota yang tidak pernah benar-benar tidur.
Langit menggantung gelap seperti hati manusia yang terlalu lama memendam luka. Hujan turun tipis membasahi jalanan, memantulkan cahaya lampu kendaraan yang bergerak tanpa arah pasti. Suara klakson bercampur dengan langkah kaki manusia yang sibuk mengejar sesuatu yang mereka sebut masa depan.
Di tengah semua keramaian itu, Arka berjalan sendirian.
Tangannya masuk ke dalam saku jaket hitam lusuh yang sudah mulai pudar warnanya. Langkahnya pelan, seolah hidup tidak lagi memberinya alasan untuk terburu-buru.
Orang-orang berlalu lalang di sampingnya. Ada yang tertawa bersama pasangannya, ada yang sibuk menelepon, ada yang menunduk menatap layar ponsel tanpa peduli dunia di sekitarnya.
Semua terlihat hidup.
Tetapi entah kenapa, Arka merasa dunia ini dipenuhi manusia-manusia kosong yang hanya pandai berpura-pura bahagia.
Ia berhenti di depan lampu merah. Tatapannya kosong memandang jalanan basah yang dipenuhi kendaraan.
Sudah lama ia merasa asing terhadap hidupnya sendiri.
Kadang ia bertanya dalam hati, sejak kapan semuanya berubah menjadi sejauh ini?
Dulu hidup terasa sederhana. Saat kecil, ia percaya bahwa dunia adalah tempat yang hangat. Tempat di mana ketulusan akan dibalas dengan ketulusan. Tempat di mana orang baik akan diperlakukan baik.
Namun semakin dewasa, semakin ia sadar bahwa dunia tidak berjalan seperti itu.
Dunia tidak peduli seberapa tulus seseorang.
Dunia hanya menghargai mereka yang terlihat kuat.
Dan Arka terlalu lelah untuk terus terlihat kuat.
Angin malam meniup pelan rambutnya yang sedikit basah karena hujan. Ia mengeluarkan rokok dari sakunya, menyalakannya perlahan, lalu menghembuskan asap ke udara dingin.
Asap itu naik perlahan lalu menghilang.
Seperti harapan-harapannya yang satu per satu hilang tanpa pernah benar-benar sempat ia genggam.
“Lucu ya…” gumamnya lirih sambil tertawa kecil pahit.
“Manusia diajarkan cara bermimpi sejak kecil, tapi tidak pernah diajarkan bagaimana bertahan saat semua mimpinya hancur.”