Malam turun perlahan di atas kota yang tidak pernah benar-benar tidur.
Langit menggantung gelap seperti hati manusia yang terlalu lama memendam luka. Hujan turun tipis membasahi jalanan, memantulkan cahaya lampu kendaraan yang bergerak tanpa arah pasti. Suara klakson bercampur dengan langkah kaki manusia yang sibuk mengejar sesuatu yang mereka sebut masa depan.
Di tengah semua keramaian itu, Arka berjalan sendirian.
Tangannya masuk ke dalam saku jaket hitam lusuh yang sudah mulai pudar warnanya. Langkahnya pelan, seolah hidup tidak lagi memberinya alasan untuk terburu-buru.
Orang-orang berlalu lalang di sampingnya. Ada yang tertawa bersama pasangannya, ada yang sibuk menelepon, ada yang menunduk menatap layar ponsel tanpa peduli dunia di sekitarnya.
Semua terlihat hidup.
Tetapi entah kenapa, Arka merasa dunia ini dipenuhi manusia-manusia kosong yang hanya pandai berpura-pura bahagia.
Ia berhenti di depan lampu merah. Tatapannya kosong memandang jalanan basah yang dipenuhi kendaraan.
Sudah lama ia merasa asing terhadap hidupnya sendiri.
Kadang ia bertanya dalam hati, sejak kapan semuanya berubah menjadi sejauh ini?
Dulu hidup terasa sederhana. Saat kecil, ia percaya bahwa dunia adalah tempat yang hangat. Tempat di mana ketulusan akan dibalas dengan ketulusan. Tempat di mana orang baik akan diperlakukan baik.
Namun semakin dewasa, semakin ia sadar bahwa dunia tidak berjalan seperti itu.
Dunia tidak peduli seberapa tulus seseorang.
Dunia hanya menghargai mereka yang terlihat kuat.
Dan Arka terlalu lelah untuk terus terlihat kuat.
Angin malam meniup pelan rambutnya yang sedikit basah karena hujan. Ia mengeluarkan rokok dari sakunya, menyalakannya perlahan, lalu menghembuskan asap ke udara dingin.
Asap itu naik perlahan lalu menghilang.
Seperti harapan-harapannya yang satu per satu hilang tanpa pernah benar-benar sempat ia genggam.
“Lucu ya …,” gumamnya lirih sambil tertawa kecil pahit.
“Manusia diajarkan cara bermimpi sejak kecil, tapi tidak pernah diajarkan bagaimana bertahan saat semua mimpinya hancur.”
Tidak ada yang menjawab.
Karena kota memang tidak pernah peduli terhadap isi kepala seseorang.
Arka melanjutkan langkahnya menuju halte tua di pinggir jalan. Tempat itu selalu menjadi tempat favoritnya untuk menghindari dunia sejenak.
Ia duduk di bangku kayu yang sudah mulai lapuk. Hujan masih turun perlahan. Bau tanah basah bercampur aroma asap kendaraan memenuhi udara malam.
Arka memandang lurus ke jalanan.
Pikirannya kembali penuh.
Belakangan ini hidup terasa semakin berat baginya. Bukan karena masalah besar yang menghancurkan segalanya sekaligus, tetapi karena terlalu banyak hal kecil yang perlahan membunuh dirinya sedikit demi sedikit.
Ekspektasi.
Kekecewaan.
Kesepian.