Manusia Yang Hilang Arah

Ahmadan Aulia Jauhar
Chapter #2

Luka yang tidak pernah selesai

Chapter 2

Luka yang Tidak Pernah Selesai

Malam selalu menjadi waktu paling berat bagi Arka.

Di saat kota mulai sunyi dan suara kendaraan perlahan menghilang, pikirannya justru menjadi semakin ramai. Ada terlalu banyak suara di dalam kepalanya. Tentang masa lalu, tentang kegagalan, tentang orang-orang yang datang lalu pergi begitu saja seolah dirinya tidak pernah berarti apa-apa.

Kamar kecil itu terasa sempit malam ini.

Lampu redup menggantung di langit-langit dengan cahaya kekuningan yang membuat suasana semakin terasa dingin. Di sudut kamar terdapat meja kayu tua penuh buku dan kertas-kertas berisi tulisan tangan yang berantakan.

Tulisan tentang kecewa.

Tentang kehilangan.

Tentang rasa lelah menjadi manusia.

Arka duduk di lantai sambil menyandarkan tubuhnya ke sisi ranjang. Sebatang rokok menyala di tangannya, sementara matanya menatap kosong ke arah jendela yang dipenuhi tetesan hujan.

Sudah lama ia sulit tidur.

Setiap kali malam datang, pikirannya seperti membuka semua luka yang selama ini berusaha ia sembunyikan.

Dan yang paling menyakitkan dari luka bukanlah rasa sakitnya.

Tetapi kenyataan bahwa beberapa luka tidak pernah benar-benar sembuh.

Mereka hanya diam sementara di dalam hati, lalu kembali terasa saat malam terlalu sepi.

Arka memejamkan matanya perlahan.

Bayangan masa lalu kembali datang tanpa permisi.

Ia masih ingat bagaimana dulu dirinya begitu percaya kepada manusia.

Terlalu percaya bahkan.

Ia pernah menjadi seseorang yang rela melakukan apa pun demi orang yang ia sayangi. Menjadi tempat cerita. Menjadi tempat pulang. Menjadi seseorang yang selalu ada kapan pun dibutuhkan.

Tetapi anehnya, orang seperti itu justru sering dilupakan paling dulu.

Ponselnya tergeletak di samping kaki. Tidak ada pesan masuk. Tidak ada panggilan.

Hening.

Dan keheningan sering kali menjadi suara paling menyakitkan bagi seseorang yang sedang merasa sendirian.

Arka tertawa kecil pelan.

“Aneh ya…” bisiknya lirih.

“Dulu aku selalu ada buat banyak orang. Tapi saat aku hancur, malah tidak ada siapa-siapa.”

Ia menunduk.

Dadanya terasa sesak.

Kadang manusia tidak hancur karena masalah besar.

Mereka hancur karena terlalu lama memendam semuanya sendiri.

Arka bangkit perlahan lalu berjalan menuju meja kecil di sudut kamar. Ia membuka salah satu buku usang miliknya. Buku itu dipenuhi tulisan tangan yang tidak pernah ia perlihatkan kepada siapa pun.

Tulisan yang menjadi tempat pelariannya saat dunia terasa terlalu berat.

Ia membuka halaman lama yang sedikit kusut.

Di sana tertulis:

“Aku terlalu sering menjadi tempat pulang orang lain sampai lupa bagaimana cara pulang untuk diriku sendiri.”

Lihat selengkapnya