Manusia Yang Hilang Arah

Ahmadan Aulia Jauhar
Chapter #3

Manusia dan Topengnya

Chapter 3

Manusia dan Topengnya

Pagi datang tanpa benar-benar membawa ketenangan bagi Arka.

Matahari muncul perlahan dari balik gedung-gedung tinggi kota, tetapi cahaya itu terasa hambar di matanya. Semalaman ia hampir tidak tidur. Kepalanya terlalu ramai oleh pikiran yang terus berputar tanpa henti.

Kamar kecil itu masih dipenuhi aroma asap rokok dan udara dingin sisa hujan malam tadi. Arka duduk di pinggir ranjang sambil menatap kosong ke arah lantai.

Hari baru telah dimulai.

Namun anehnya, hidupnya terasa tetap sama.

Kosong.

Ia mengusap wajahnya pelan lalu mengambil ponsel di samping bantal. Tidak ada pesan penting. Hanya beberapa notifikasi media sosial yang bahkan tidak ingin ia buka.

Belakangan ini Arka mulai merasa lelah melihat kehidupan orang lain.

Semua terlihat bahagia.

Semua terlihat sempurna.

Foto tertawa bersama teman. Foto pasangan yang saling menggenggam tangan. Kata-kata motivasi tentang hidup yang terlihat indah.

Padahal Arka tahu, tidak semua yang terlihat bahagia benar-benar bahagia.

Media sosial hanyalah tempat manusia menyembunyikan luka dengan cara yang lebih rapi.

Ia mematikan layar ponselnya lalu berjalan menuju kamar mandi kecil di sudut rumah. Air dingin membasahi wajahnya perlahan.

Saat menatap cermin, Arka kembali melihat sosok asing di sana.

Matanya terlihat lelah. Tatapannya kosong. Seperti seseorang yang sudah terlalu lama kehilangan semangat hidup.

Kadang ia bertanya dalam hati, sejak kapan dirinya berubah menjadi seperti ini?

Dulu ia adalah seseorang yang mudah tertawa.

Namun sekarang, bahkan tersenyum saja terasa melelahkan.

Setelah bersiap, Arka keluar rumah tanpa banyak bicara. Ibunya sedang memasak di dapur, sedangkan ayahnya sudah pergi bekerja sejak pagi.

“Berangkat dulu,” ucap Arka pelan.

Ibunya hanya mengangguk tanpa menoleh.

Hubungan mereka tidak buruk. Tetapi juga tidak dekat.

Rumah itu terasa seperti tempat orang-orang hidup bersama tanpa benar-benar saling mengenal.

Di perjalanan menuju kampus, Arka duduk di dalam angkot sambil memakai earphone. Lagu lama mengalun pelan di telinganya, tetapi pikirannya tetap tidak tenang.

Ia memandangi jalanan kota dari balik jendela.

Orang-orang berjalan tergesa-gesa. Wajah mereka terlihat sibuk. Semua seolah berlomba mengejar sesuatu.

Dan tiba-tiba Arka sadar…

Manusia memang aneh.

Mereka rela memakai banyak topeng hanya agar diterima dunia.

Topeng bahagia.

Topeng kuat.

Topeng baik-baik saja.

Padahal di balik semua itu, banyak hati yang sebenarnya sedang hancur.

Sesampainya di kampus, suasana sudah ramai. Beberapa mahasiswa berkumpul sambil bercanda. Ada yang sibuk membuat tugas, ada yang tertawa keras seolah hidup mereka tanpa masalah.

Arka berjalan melewati keramaian itu dengan langkah pelan.

Lihat selengkapnya