Manusia Yang Hilang Arah

Ahmadan Aulia Jauhar
Chapter #4

Rumah yang tidak lagi hangat

Chapter 4

Rumah yang Tidak Lagi Hangat

Malam itu rumah terasa lebih sunyi dari biasanya.

Jam dinding di ruang tengah berdetak pelan, mengisi keheningan yang terasa dingin. Lampu ruang tamu menyala redup, memantulkan bayangan-bayangan kecil di dinding rumah yang mulai kusam dimakan waktu.

Arka baru saja pulang.

Sepatunya yang sedikit basah karena hujan diletakkan sembarangan di depan pintu. Ia berjalan pelan menuju dapur untuk mengambil air minum, lalu berhenti saat mendengar suara ayah dan ibunya berbicara dari ruang tengah.

Bukan percakapan hangat.

Melainkan perdebatan kecil yang sudah terlalu sering terjadi di rumah itu.

Tentang uang.

Tentang pekerjaan.

Tentang hidup yang terasa semakin berat.

Arka memejamkan mata sejenak.

Rumah itu memang tidak pernah benar-benar tenang.

Sejak kecil, ia tumbuh di antara suara pertengkaran dan tekanan hidup yang perlahan mengikis hangatnya keluarga.

Bukan berarti kedua orang tuanya tidak menyayanginya.

Mereka hanya terlalu sibuk bertahan hidup sampai lupa bagaimana caranya saling memahami.

Dan Arka tumbuh menjadi seseorang yang terbiasa diam.

Ia berjalan menuju kamarnya tanpa mengganggu percakapan mereka. Pintu kayu itu ditutup perlahan, lalu tubuhnya jatuh begitu saja ke atas kasur.

Langit-langit kamar menjadi satu-satunya hal yang ia pandangi malam itu.

Kosong.

Sama seperti perasaannya belakangan ini.

Kadang Arka iri kepada orang-orang yang menjadikan rumah sebagai tempat pulang paling nyaman.

Karena baginya, rumah hanyalah tempat untuk tidur sebelum kembali menghadapi dunia yang melelahkan keesokan harinya.

Tidak ada pelukan hangat.

Tidak ada percakapan panjang tentang perasaan.

Tidak ada tempat aman untuk bercerita.

Di rumah itu, semua orang sibuk dengan lukanya masing-masing.

Dan mungkin itulah alasan kenapa Arka menjadi seseorang yang sulit terbuka kepada siapa pun.

Sejak kecil ia belajar satu hal:

Perasaan hanyalah sesuatu yang harus dipendam sendiri.

Arka menoleh ke arah meja kecil di samping ranjangnya. Di sana terdapat beberapa buku lama, headset rusak, dan foto masa kecil keluarganya yang sudah mulai pudar warnanya.

Ia mengambil foto itu perlahan.

Di dalam foto tersebut, Arka kecil berdiri di antara ayah dan ibunya sambil tersenyum lebar. Wajah mereka terlihat bahagia.

Sangat berbeda dengan sekarang.

Kadang waktu memang kejam.

Ia bisa mengubah manusia menjadi asing bahkan terhadap keluarganya sendiri.

Arka menatap foto itu cukup lama sebelum akhirnya tersenyum kecil pahit.

“Aku kangen rumah yang dulu…” bisiknya lirih.

Lihat selengkapnya