Manusia Yang Hilang Arah

Ahmadan Aulia Jauhar
Chapter #5

Cinta yang menghancurkan

Chapter 5

Cinta yang Menghancurkan

Tidak semua kehilangan datang dengan perpisahan.

Kadang seseorang tetap ada di dekatmu, masih bisa kamu lihat wajahnya, masih bisa kamu hubungi namanya, tetapi hatinya sudah pergi jauh sebelum langkahnya benar-benar meninggalkanmu.

Dan Arka merasakan itu bersama Senja.

Malam itu kota kembali diguyur hujan.

Langit terlihat gelap seperti menyimpan sesuatu yang terlalu berat untuk dijatuhkan sekaligus. Arka duduk sendirian di sebuah kafe kecil yang dulu sering mereka datangi bersama.

Kursi di depannya kosong.

Namun anehnya, bayangan Senja terasa masih duduk di sana.

Masih tertawa kecil sambil memainkan sedotan minumannya. Masih memandang Arka dengan mata hangat yang dulu pernah menjadi tempat paling nyaman untuk pulang.

Dulu.

Semua terasa sangat jauh sekarang.

Arka menatap secangkir kopi yang mulai dingin di depannya. Tangannya diam memegang gelas itu tanpa benar-benar meminumnya.

Kadang yang paling menyakitkan dari sebuah kenangan bukan tentang masa lalunya.

Melainkan kenyataan bahwa kita tidak akan pernah bisa kembali ke sana.

Hujan di luar semakin deras.

Suara rintiknya memenuhi keheningan malam yang terasa sesak.

Arka memejamkan mata perlahan.

Dan seperti biasa, pikirannya kembali menarik dirinya ke masa-masa saat Senja masih menjadi alasan dirinya bertahan menghadapi hidup.

Dulu Senja datang seperti cahaya kecil di tengah gelapnya dunia Arka.

Perempuan itu tidak pernah hadir dengan cara yang berlebihan. Tidak dengan kata-kata besar atau janji manis yang terlalu sempurna.

Senja hanya hadir… dan membuat semuanya terasa lebih tenang.

Ia mendengarkan Arka tanpa memotong cerita. Memahami diamnya tanpa memaksa penjelasan. Menemani lelahnya tanpa meminta imbalan apa pun.

Dan bagi seseorang seperti Arka, itu sudah lebih dari cukup.

Karena orang yang terlalu sering memendam semuanya sendiri biasanya hanya membutuhkan satu hal sederhana:

Seseorang yang mau tinggal.

Arka masih ingat malam pertama kali Senja menggenggam tangannya.

Waktu itu mereka duduk di pinggir jalan setelah hujan reda. Lampu kota terlihat samar di kejauhan.

“Aku gak tau kenapa,” kata Senja pelan sambil tersenyum kecil.

“Tapi kalau sama kamu, aku ngerasa tenang.”

Kalimat sederhana itu terdengar begitu tulus.

Dan sejak malam itu, Arka mulai mempercayakan hatinya kepada seseorang lagi.

Sesuatu yang sebelumnya tidak pernah berani ia lakukan.

Hari-hari mereka dipenuhi banyak hal kecil yang sederhana tetapi hangat.

Berjalan malam tanpa tujuan.

Duduk berjam-jam membicarakan hidup.

Saling mendengarkan lagu favorit masing-masing.

Menertawakan hal-hal kecil yang sebenarnya tidak lucu.

Arka mulai merasa hidupnya memiliki warna kembali.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa dirinya tidak sendirian.

Dan mungkin itulah kesalahan terbesar manusia.

Lihat selengkapnya