Manusia Yang Hilang Arah

Ahmadan Aulia Jauhar
Chapter #6

Pikiran yang menjadi penjara

Chapter 6

Pikiran yang Menjadi Penjara

Ada luka yang datang dari manusia lain.

Namun ada juga luka yang lahir dari pikiran kita sendiri.

Dan bagi Arka, pikirannya perlahan berubah menjadi tempat paling berbahaya dalam hidupnya.

Malam itu udara terasa sangat dingin.

Hujan belum turun, tetapi langit kota sudah terlihat gelap dan berat seperti menahan sesuatu yang sebentar lagi akan jatuh. Lampu-lampu jalan menyala samar di antara kabut tipis malam, sementara suara kendaraan terdengar jauh seperti gema yang kehilangan arah.

Arka berjalan sendirian tanpa tujuan.

Earphone terpasang di telinganya, tetapi ia bahkan tidak benar-benar mendengarkan lagu yang sedang diputar. Kepalanya terlalu penuh untuk mendengar apa pun.

Setelah kepergian Senja, hidup terasa semakin sunyi.

Hari-hari tetap berjalan seperti biasa. Matahari tetap terbit. Orang-orang tetap tertawa. Dunia tetap hidup.

Namun di dalam dirinya, semuanya terasa berhenti.

Arka mulai kehilangan semangat untuk banyak hal.

Ia jarang membalas pesan. Jarang keluar bersama teman. Bahkan berbicara pun terasa melelahkan.

Dan yang paling menyakitkan adalah…

Tidak ada seorang pun yang benar-benar menyadari bahwa dirinya sedang perlahan tenggelam.

Karena Arka terlalu pandai terlihat baik-baik saja.

Ia masih tersenyum ketika orang lain berbicara dengannya. Masih tertawa kecil saat Reno melontarkan candaan. Masih menjawab “aku gapapa” setiap kali seseorang bertanya keadaannya.

Padahal dirinya hancur.

Benar-benar hancur.

Kadang manusia paling sulit ditolong adalah mereka yang terbiasa menyembunyikan rasa sakitnya sendiri.

Arka berhenti di sebuah jembatan kecil di tengah kota. Di bawahnya, air sungai mengalir pelan memantulkan cahaya lampu malam.

Ia berdiri diam sambil memandangi gelapnya air.

Lalu tanpa sadar, pikirannya kembali berbicara.

“Kalau aku hilang malam ini… apa akan ada yang benar-benar sadar aku gak baik-baik aja?”

Pertanyaan itu terasa begitu berat.

Karena sebenarnya, manusia tidak takut sendirian.

Mereka hanya takut tidak berarti bagi siapa pun.

Angin malam meniup wajahnya pelan.

Arka memejamkan mata.

Kepalanya kembali dipenuhi banyak suara yang tidak bisa ia hentikan.

Tentang kegagalan.

Tentang kehilangan.

Tentang rasa kecewa terhadap dirinya sendiri.

Belakangan ini ia mulai sering menyalahkan dirinya atas banyak hal.

Tentang hubungan yang gagal bersama Senja.

Tentang dirinya yang selalu terlalu dalam mencintai seseorang.

Tentang hidup yang terasa semakin kosong.

Kadang ia merasa dirinya terlalu rusak untuk dicintai.

Lihat selengkapnya