Manusia Yang Hilang Arah

Ahmadan Aulia Jauhar
Chapter #8

Dunia yang semakin asing

Chapter 8

Dunia yang Semakin Asing

Semakin dewasa, Arka mulai menyadari satu hal yang paling menyakitkan tentang hidup.

Bahwa dunia tidak berubah menjadi lebih baik.

Manusia hanya semakin pandai menyembunyikan sisi buruknya.

Malam itu kota dipenuhi cahaya lampu seperti biasa. Kendaraan berlalu-lalang tanpa henti, suara musik terdengar dari beberapa kafe di pinggir jalan, dan orang-orang berjalan dengan wajah sibuk mengejar urusan mereka masing-masing.

Namun di tengah semua kehidupan itu, Arka merasa dirinya seperti seseorang yang tidak lagi memiliki tempat di mana pun.

Ia berjalan pelan menyusuri trotoar kota dengan tangan masuk ke dalam saku jaketnya. Angin malam terasa dingin menusuk kulit.

Belakangan ini, ia semakin sering merasa asing terhadap dunia.

Bukan karena dunia berubah tiba-tiba.

Tetapi karena luka membuat cara pandangnya terhadap hidup ikut berubah.

Dulu Arka percaya bahwa manusia bisa saling menyelamatkan.

Sekarang ia sadar…

Banyak manusia bahkan tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri.

Ia berhenti di depan lampu merah sambil memperhatikan orang-orang di sekitarnya.

Seorang pria berbicara kasar kepada pengemis tua yang meminta uang receh.

Sepasang kekasih bertengkar kecil hanya karena salah paham sederhana.

Sekelompok anak muda tertawa sambil diam-diam membicarakan temannya sendiri di belakang.

Hal-hal kecil.

Namun cukup membuat Arka semakin percaya bahwa manusia perlahan kehilangan hati nuraninya.

Kadang dunia terasa begitu ramai.

Tetapi anehnya, manusia justru semakin kesepian.

Arka melanjutkan langkahnya hingga akhirnya sampai di sebuah minimarket kecil yang buka dua puluh empat jam. Ia membeli kopi lalu duduk sendiri di kursi depan toko.

Malam semakin larut.

Suasana mulai sepi.

Ia membuka ponselnya tanpa tujuan. Media sosial kembali dipenuhi foto-foto kebahagiaan manusia.

Senyuman.

Liburan.

Cinta.

Pertemanan.

Semua terlihat begitu sempurna.

Namun Arka tahu…

Tidak ada manusia yang benar-benar memperlihatkan luka mereka kepada dunia.

Karena dunia hanya menyukai cerita bahagia.

Bukan cerita tentang seseorang yang diam-diam sedang hancur.

Ia mematikan layar ponselnya pelan.

Dadanya terasa semakin sesak.

Belakangan ini ia mulai sulit mempercayai banyak hal.

Termasuk kebahagiaan manusia.

Karena ia terlalu sering melihat orang tertawa di luar tetapi menangis diam-diam saat sendirian.

Termasuk dirinya sendiri.

Lihat selengkapnya