Manusia Yang Hilang Arah

Ahmadan Aulia Jauhar
Chapter #9

Titik paling gelap

Chapter 9

Titik Paling Gelap

Ada malam-malam tertentu dalam hidup seseorang yang terasa lebih gelap dibandingkan malam biasanya.

Bukan karena langitnya tanpa bintang.

Tetapi karena hati manusia sedang kehilangan cahaya di dalam dirinya sendiri.

Dan malam itu, Arka berada di titik paling gelap dalam hidupnya.

Hujan turun deras sejak sore.

Langit kota dipenuhi awan hitam yang menggantung berat seperti menyimpan amarah yang tidak pernah selesai. Jalanan basah memantulkan cahaya lampu kendaraan yang bergerak cepat menembus dingin malam.

Arka duduk sendirian di dalam kamarnya.

Lampu tidak dinyalakan.

Ia hanya membiarkan dirinya tenggelam dalam gelap sambil memandangi hujan dari balik jendela.

Belakangan ini hidup terasa semakin melelahkan baginya.

Bukan karena satu masalah besar.

Tetapi karena terlalu banyak luka kecil yang perlahan menghancurkan dirinya sedikit demi sedikit.

Kecewa yang dipendam terlalu lama.

Kesepian yang tidak pernah benar-benar hilang.

Pikiran-pikiran buruk yang terus memakan isi kepalanya setiap malam.

Dan yang paling menyakitkan…

Ia mulai kehilangan alasan untuk terus bertahan.

Arka menarik napas panjang.

Dadanya terasa sesak seperti ada sesuatu yang menekan terlalu dalam.

Ponselnya bergetar pelan di atas meja.

Namun ia tidak peduli.

Ia terlalu lelah untuk berbicara dengan siapa pun.

Kadang seseorang bukan tidak ingin diselamatkan.

Mereka hanya terlalu lelah menjelaskan rasa sakitnya kepada dunia.

Arka menunduk sambil menggenggam rambutnya pelan.

Pikirannya kembali ramai.

Suara-suara di kepalanya semakin sulit dihentikan.

Tentang kegagalan.

Tentang kehilangan.

Tentang dirinya yang selalu merasa tidak cukup.

Ia mulai membenci dirinya sendiri.

Membenci kenapa ia terlalu mudah berharap kepada manusia. Membenci kenapa ia selalu terlalu tulus hingga akhirnya hanya menjadi orang yang paling terluka.

Dan malam itu…

Untuk pertama kalinya, Arka benar-benar merasa ingin menyerah terhadap hidupnya sendiri.

Hujan di luar semakin deras.

Suara petir terdengar samar dari kejauhan.

Arka berdiri perlahan lalu berjalan menuju cermin di sudut kamar.

Pantulan wajah itu terlihat begitu lelah.

Matanya merah. Tatapannya kosong.

Lihat selengkapnya