Chapter 10
Belajar Berdamai Dengan Luka
Tidak semua luka harus hilang untuk membuat seseorang kembali hidup.
Kadang manusia hanya perlu belajar berdamai dengan rasa sakit yang tidak bisa mereka ubah.
Dan setelah semua malam panjang yang menghancurkan dirinya perlahan, Arka mulai memahami hal itu.
Pagi datang dengan langit yang masih mendung.
Udara terasa dingin setelah hujan semalaman mengguyur kota. Jalanan masih basah, daun-daun pohon dipenuhi sisa air hujan, dan suara kendaraan terdengar samar dari kejauhan.
Arka berdiri di depan jendela kamarnya sambil memandangi langit.
Matanya masih terlihat lelah.
Namun ada sesuatu yang sedikit berbeda pagi itu.
Pikirannya memang belum tenang. Lukanya belum sembuh. Kesedihannya masih ada.
Tetapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
Ia tidak merasa ingin menyerah sepenuhnya.
Malam sebelumnya masih membekas jelas di kepalanya.
Tangisan.
Kesepian.
Rasa lelah yang hampir membuat dirinya runtuh sepenuhnya.
Namun di tengah semua itu, Arka akhirnya menyadari sesuatu.
Bahwa selama ini dirinya terlalu keras terhadap dirinya sendiri.
Ia memaksa dirinya selalu kuat. Selalu mengerti keadaan orang lain. Selalu bertahan tanpa pernah memberi ruang untuk dirinya merasa lelah.
Padahal manusia bukan batu.
Hati manusia bisa retak.
Dan jiwa manusia bisa lelah.
Arka menghela napas panjang lalu berjalan menuju meja kecil di sudut kamar. Buku kosong yang semalam ia tulis masih terbuka di sana.
Tulisan itu masih sama.
“Aku lelah menjadi seseorang yang terus kehilangan dirinya demi membuat orang lain tetap tinggal.”
Arka membaca kalimat itu perlahan.
Lalu duduk sambil memandanginya cukup lama.
Selama ini ia terlalu takut kehilangan manusia lain sampai lupa menjaga dirinya sendiri.
Ia terlalu sering mengorbankan hati dan pikirannya demi orang-orang yang bahkan tidak benar-benar tinggal saat dirinya hancur.
Dan kini…
Ia mulai lelah hidup seperti itu.
Ponselnya bergetar pelan.
Pesan dari Reno kembali masuk.
“Hari ini keluar bentar yuk.”
Biasanya Arka akan menolak.
Namun entah kenapa, kali ini ia membalas singkat.
“Kemana?”
Tidak lama kemudian Reno menjawab.
“Terserah. Lu butuh udara luar.”
Arka tersenyum kecil.
Sangat kecil.
Namun cukup untuk membuat dirinya sadar bahwa senyum itu ternyata masih ada di dalam dirinya.