Manusia Yang Hilang Arah

Ahmadan Aulia Jauhar
Chapter #11

Manusia yang mulai pulang

Chapter 11

Manusia yang Mulai Pulang

Tidak semua perjalanan tentang hidup berakhir dengan kebahagiaan besar.

Kadang perjalanan paling penting adalah ketika seseorang akhirnya berhasil pulang kepada dirinya sendiri.

Dan Arka perlahan sedang menuju ke sana.

Malam itu kota terasa lebih tenang dibanding biasanya.

Hujan tidak turun. Langit memang masih gelap, tetapi angin malam bergerak pelan membawa udara dingin yang terasa lembut di kulit.

Arka duduk di atas atap rumahnya sendirian.

Sudah lama ia tidak melakukan hal seperti ini.

Dulu, sebelum hidup terasa begitu berat, ia sering naik ke atas rumah hanya untuk memandangi langit malam sambil mendengarkan lagu-lagu lama dari earphone murah miliknya.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama…

Ia mencoba kembali menikmati kesunyian tanpa merasa dihancurkan olehnya.

Lampu-lampu kota terlihat kecil dari kejauhan.

Beberapa kendaraan masih melintas di jalan raya. Suara anjing terdengar samar dari gang sebelah.

Semuanya terasa sederhana.

Namun anehnya, malam itu Arka tidak lagi merasa terlalu sesak seperti biasanya.

Lukanya memang belum hilang.

Ia masih sering mengingat Senja. Masih sering merasa kosong. Masih sering kehilangan arah ketika pikirannya kembali ramai.

Tetapi sekarang ia mulai memahami satu hal.

Bahwa sembuh bukan tentang melupakan semuanya.

Melainkan tentang menerima bahwa hidup tetap harus berjalan meski luka itu masih ada.

Arka memandangi langit cukup lama.

Lalu tersenyum kecil saat mengingat dirinya beberapa bulan lalu.

Versi dirinya yang hampir menyerah terhadap hidup.

Versi dirinya yang setiap malam hanya ingin menghilang dari dunia.

Dan sekarang…

Meski belum sepenuhnya baik-baik saja, setidaknya ia masih ada di sini.

Masih bernapas.

Masih bertahan.

Kadang keberanian terbesar manusia bukan tentang melawan dunia.

Tetapi tentang memilih tetap hidup saat dirinya sendiri hampir menyerah.

Ponselnya bergetar pelan.

Pesan dari ibunya muncul.

“Jangan tidur di atas, nanti masuk angin.”

Arka tertawa kecil.

Sederhana.

Lihat selengkapnya