Chapter 12
Tidak Semua Luka Harus Sembuh
Waktu terus berjalan.
Tanpa peduli siapa yang masih terluka, siapa yang sedang kehilangan arah, atau siapa yang diam-diam berusaha bertahan dari hidupnya sendiri.
Dan Arka mulai memahami satu hal penting tentang menjadi manusia.
Bahwa tidak semua luka harus sembuh untuk membuat seseorang bisa kembali hidup.
Pagi itu langit terlihat cerah untuk pertama kalinya setelah beberapa hari hujan terus turun. Cahaya matahari masuk melalui jendela kamar Arka, menerangi meja kecil yang dipenuhi buku dan tulisan-tulisan tentang isi hatinya sendiri.
Suasana rumah terasa lebih tenang.
Ibunya sedang memasak di dapur sambil mendengarkan radio kecil kesayangannya. Ayahnya duduk di ruang tamu membaca koran sambil sesekali menyeruput kopi.
Hal sederhana.
Namun cukup membuat rumah itu terasa sedikit hidup kembali.
Arka keluar kamar dengan langkah pelan.
Ibunya menoleh sambil tersenyum kecil.
“Mau sarapan?”
Arka mengangguk pelan.
Sudah lama sekali ia tidak duduk makan pagi bersama keluarganya.
Biasanya ia memilih mengurung diri di kamar atau pergi sebelum siapa pun bangun.
Namun pagi itu terasa berbeda.
Mereka makan dalam diam.
Tetapi untuk pertama kalinya, diam itu tidak terasa dingin.
Kadang keluarga memang tidak selalu pandai mengucapkan rasa sayang.
Beberapa manusia hanya menunjukkannya lewat hal-hal kecil yang sering tidak disadari.
Ayah Arka tiba-tiba membuka suara.
“Kampus gimana?”
Arka sedikit terkejut.
Jarang sekali ayahnya memulai percakapan lebih dulu.
“Baik.”
Ayahnya mengangguk pelan lalu kembali meminum kopinya.
Percakapan sederhana.
Namun cukup membuat dada Arka terasa hangat.
Karena selama ini yang ia rindukan sebenarnya bukan perhatian besar.
Hanya rasa bahwa dirinya dianggap ada.
Setelah sarapan, Arka keluar rumah berjalan kaki tanpa tujuan tertentu.
Udara pagi terasa segar.
Langit biru terlihat luas di atas kota yang perlahan mulai ramai oleh aktivitas manusia.
Di sepanjang jalan, Arka memperhatikan banyak hal kecil yang dulu sering ia abaikan.
Seorang tukang roti tersenyum kepada pembelinya.
Anak kecil tertawa sambil berlari mengejar temannya.
Seorang bapak tua duduk tenang menikmati kopi di depan warung.
Hal-hal biasa.
Namun tiba-tiba terasa begitu berarti di mata Arka.