Manusia Yang Hilang Arah

Ahmadan Aulia Jauhar
Chapter #13

Manusia tidak pernah benar benar sendiri

Chapter 13

Manusia Tidak Pernah Benar-Benar Sendiri

Malam kembali turun di atas kota.

Lampu-lampu jalan menyala satu per satu, kendaraan masih berlalu-lalang seperti biasa, dan manusia-manusia terus berjalan dengan pikirannya masing-masing.

Namun malam itu terasa berbeda bagi Arka.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak lagi merasa harus lari dari dirinya sendiri.

Arka duduk di teras rumah sambil meminum teh hangat buatan ibunya. Angin malam berhembus pelan membawa aroma tanah basah sisa hujan sore tadi.

Suasana begitu tenang.

Tidak banyak suara.

Tidak banyak pikiran yang saling bertabrakan di kepalanya seperti dulu.

Dan itu terasa asing sekaligus menenangkan.

Belakangan ini Arka mulai belajar menikmati kesunyian tanpa merasa dihancurkan olehnya.

Karena selama ini ia selalu menganggap sepi sebagai musuh.

Padahal terkadang, sepi hanya sedang mengajarkan manusia untuk kembali mengenal dirinya sendiri.

Ibunya keluar membawa sepiring gorengan lalu duduk di samping Arka.

“Kamu sekarang sering duduk di luar ya,” ucap ibunya pelan.

Arka tersenyum kecil.

“Anginnya enak.”

Ibunya mengangguk sambil memandang jalanan kecil di depan rumah mereka.

Beberapa anak muda terlihat tertawa sambil lewat menggunakan motor.

Suasana malam kampung terasa sederhana.

Namun hangat.

Ibunya tiba-tiba berkata pelan,

“Kamu sekarang keliatan lebih tenang.”

Arka terdiam beberapa detik.

Lalu tersenyum kecil pahit.

“Masih sering capek sebenarnya.”

Ibunya memandang Arka cukup lama sebelum akhirnya berkata,

“Manusia emang gak bisa hidup tanpa luka, Ka.”

Kalimat itu membuat Arka menoleh perlahan.

Ibunya tersenyum kecil.

Lihat selengkapnya