Manusia Yang Hilang Arah

Ahmadan Aulia Jauhar
Chapter #14

Beberapa luka datang kembali

Chapter 14

Beberapa Luka Datang Kembali

Manusia bisa melupakan wajah.

Bisa melupakan suara.

Bahkan bisa melupakan banyak kenangan yang dulu terasa begitu berarti.

Namun ada beberapa rasa sakit yang tidak benar-benar pergi.

Ia hanya diam di dalam hati… sampai suatu hari kembali mengetuk tanpa permisi.

Dan malam itu, masa lalu kembali datang ke hidup Arka.

Langit kota dipenuhi awan gelap sejak sore. Hujan turun perlahan membasahi jalan-jalan kecil dan lampu-lampu kota yang menyala samar. Udara malam terasa dingin, menusuk sampai ke dalam dada.

Arka duduk sendiri di sebuah warung kopi kecil dekat taman kota.

Tempat itu mulai menjadi pelariannya akhir-akhir ini.

Tidak terlalu ramai.

Tidak terlalu sunyi.

Cukup tenang untuk seseorang yang sedang mencoba memperbaiki hidupnya sedikit demi sedikit.

Di depannya, secangkir kopi hitam mulai dingin.

Sementara matanya sibuk memandangi hujan dari balik kaca jendela.

Belakangan ini Arka mulai merasa lebih tenang.

Ia masih memiliki luka. Masih sering overthinking. Masih terkadang merasa kosong ketika malam terlalu sepi.

Namun setidaknya sekarang ia tidak lagi membenci dirinya sendiri seperti dulu.

Dan itu sudah lebih dari cukup.

Kadang sembuh memang bukan tentang menjadi bahagia sepenuhnya.

Tetapi tentang berhenti ingin menghancurkan diri sendiri setiap hari.

Arka menghela napas panjang.

Suara hujan membuat pikirannya terasa sedikit tenang.

Sampai tiba-tiba…

Ponselnya bergetar pelan di atas meja.

Sebuah nama muncul di layar.

Senja.

Jantung Arka terasa berhenti sesaat.

Tatapannya membeku.

Tangannya perlahan menggenggam ponsel itu dengan napas yang tiba-tiba terasa berat.

Sudah lama sekali nama itu tidak muncul dalam hidupnya.

Sudah lama sekali Arka mencoba membiasakan dirinya hidup tanpa seseorang bernama Senja.

Namun ternyata…

Beberapa nama memang masih mampu membuat hati manusia bergetar meski luka yang ditinggalkan sudah begitu dalam.

Pesan itu singkat.

“Apa kabar?”

Dua kata sederhana.

Tetapi cukup untuk membuat seluruh kenangan yang selama ini Arka kubur perlahan bangkit kembali.

Tentang malam-malam panjang bersama Senja.

Tentang tawa kecil perempuan itu.

Tentang rasa nyaman yang dulu membuat Arka merasa hidup.

Lihat selengkapnya