Manusia Yang Hilang Arah

Ahmadan Aulia Jauhar
Chapter #15

Akhir yang tidak lagi menyakitkan

Chapter 15

Akhir yang Tidak Lagi Menyakitkan

Tidak semua perpisahan berakhir dengan kebencian.

Tidak semua luka harus menghilang untuk membuat hati merasa tenang.

Kadang manusia hanya perlu menerima bahwa beberapa hal memang ditakdirkan datang untuk mengajarkan rasa sakit… bukan untuk tinggal selamanya.

Dan malam itu, Arka akhirnya benar-benar memahami arti melepaskan.

Langit kota terlihat cerah setelah berhari-hari hujan turun tanpa henti. Udara malam terasa dingin, tetapi tidak lagi menusuk seperti biasanya.

Arka berjalan sendirian menyusuri jalan kecil dekat taman kota.

Lampu-lampu jalan memantulkan cahaya kuning redup di aspal yang masih sedikit basah. Suasana malam terasa tenang.

Sudah lama sekali Arka tidak merasa setenang ini.

Bukan karena hidupnya tiba-tiba sempurna.

Bukan karena semua lukanya sudah hilang.

Tetapi karena akhirnya ia berhenti melawan dirinya sendiri.

Kadang rasa lelah terbesar manusia bukan berasal dari dunia.

Melainkan dari dirinya yang terus memaksa hati untuk kuat setiap waktu.

Arka berhenti di sebuah bangku taman lalu duduk perlahan.

Angin malam meniup rambutnya pelan.

Pikirannya kembali mengingat banyak hal.

Tentang dirinya beberapa bulan lalu yang hampir menyerah terhadap hidup.

Tentang malam-malam panjang ketika ia menangis sendirian.

Tentang rasa kehilangan yang membuat dadanya terasa kosong setiap hari.

Dan sekarang…

Ia masih di sini.

Masih hidup.

Masih berjalan meski perlahan.

Arka tersenyum kecil.

Kadang manusia tidak sadar bahwa dirinya sedang sembuh sampai suatu hari mereka bisa mengingat masa lalunya tanpa lagi hancur karenanya.

Ponselnya bergetar kecil.

Pesan dari Senja muncul lagi di layar.

“Makasih ya… dulu pernah jadi rumah buat aku.”

Arka membaca pesan itu cukup lama.

Namun kali ini dadanya tidak lagi sesakit dulu.

Tidak ada marah.

Lihat selengkapnya