Chapter 16
Hidup Tetap Berjalan
Pada akhirnya, hidup tidak pernah benar-benar berhenti demi seseorang yang sedang terluka.
Waktu tetap berjalan.
Pagi tetap datang.
Dan manusia tetap harus melanjutkan hidupnya, seberat apa pun isi hatinya.
Dan Arka akhirnya mulai menerima kenyataan itu.
Pagi itu matahari muncul perlahan dari balik langit kota yang cerah. Cahaya hangat masuk melalui jendela kamar Arka, menyinari meja kecil yang penuh dengan buku dan tulisan-tulisan tentang hidupnya sendiri.
Suasana terasa tenang.
Tidak lagi sesesak dulu.
Arka membuka matanya perlahan lalu duduk di tepi ranjang sambil memandangi langit pagi.
Sudah lama sekali ia tidak bangun tanpa rasa berat di dada.
Meski pikirannya masih sering lelah…
Setidaknya sekarang ia tidak lagi takut menjalani hari.
Kadang sembuh memang tidak datang seperti keajaiban.
Ia datang perlahan.
Sangat perlahan.
Sampai suatu hari seseorang sadar bahwa dirinya sudah bisa bernapas lebih lega dibanding sebelumnya.
Arka berjalan keluar kamar menuju dapur.
Ibunya sedang memasak sambil bersenandung kecil mengikuti lagu lama dari radio.
Melihat Arka datang lebih pagi dari biasanya, ibunya sedikit tersenyum.
“Mau teh?”
Arka mengangguk kecil.
“Iya, Ma.”
Ibunya menuangkan teh hangat ke dalam gelas lalu meletakkannya di meja.
Hal sederhana.
Namun sekarang Arka mulai belajar menghargai momen-momen kecil seperti itu.
Karena ternyata hidup tidak selalu tentang kebahagiaan besar.
Kadang manusia bertahan hanya karena hal-hal kecil yang tetap ada di sekitarnya.
Ayahnya keluar dari kamar sambil membawa koran.
“Udah lama gak liat kamu bangun pagi,” ucap ayahnya singkat.
Arka tersenyum kecil.
“Lagi nyoba hidup normal lagi.”
Ayahnya tertawa pelan.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, suasana rumah terasa hangat tanpa dipenuhi rasa asing.
Arka duduk sambil meminum tehnya perlahan.
Dadanya terasa tenang.